Banner_BKP2D_2017.jpg Banner_Dirgahayu_RI_Ke-74.jpg




Sekilas Info

 
BADAN KEPEGAWAIAN, PENDIDIKAN DAN PELATIHAN DAERAH
KABUPATEN PELALAWAN MENGUCAPKAN SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1440 H / 2019 M
MINAL AIDIN WAL FAIDZIN,
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN 
 

Kalender

Meninggal Dunia Ketika Masih Memiliki Utang Puasa Ramadhan
Rabu, 07 Juni 2017-11:05:02WIB
Kategori: Kesehatan - Dibaca: 413 kali

Foto Artikel

S alah satu momen yang di tunggu oleh orang mukmin adalah bulan ramadhan. Pada bulan ini, allah swt melimpahkan segenap rahmat dan pahala bagi siapa pun yang melakukan amal shalih. Dan memang ketika itu kaum muslimin sangat dianjurkan untuk menambah laju amal saleh dari bulan-bulan sebelumnya, sebab inilah saat yang tepat untuk meraih rahmat dan predikat takwa dari allah swt.

Bagaimakah hukum orang menunggal dunia yang masih mempunyai kewajiban hutang puasa ?

Jika seseorang meninggal dunia, sedang kewajiban shalat ada yang luput atau ketinggalan olehnya, maka menurut ijma’ ulama, baik walinya atau orang lain, tidak boleh melakukan shalat sebagai gantinya. Demikian pula orang yang tak sanggup berpuasa, tidaklah digantikan berpuasa oleh seorangpun waktu ia masih hidup. Akan tetapi jika ia meninggal dan masih  meninggalkan utang puasa, sedang ia ada kesempatan untuk melakukannya sebelum meninggal itu, maka fukaha (para ahli fikih) berselisih paham tentang hukumnya:

  • Tidak digantikan. Jumhur ulama, diantaranya Abu Hanifah, Malik dan juga Syafi’I – menurut pendapatnya yang lebih terkenal – berpendapat bahwa wali tidak boleh menggantikan berpuasa, hanya hendaklah ia memberikan segantang makanan untuk setiap hari ia berutang itu. [1].
  • Digantikan. Golongan Syafi’i: disunatkan bagi wali menggantikan orang yang telah meninggal itu berpuasa yang akan membebaskannya dari kewajiban, dan tidak perlu membayar fidyah. Dan yang dimaksud dengan wali ialah: kerabat, baik kedudukannya sebagai ‘ashabah, ahli waris biasa dan lain-lain. Dan seandainya yang menggantikan berpuasa itu orang lain, maka puasa itu sah jika dengan izin dari wali. Jika tidak, maka puasa itu tidak sah. Mereka berpedoman pada hadits yang diceritakan oleh ‘Aisyah r.a.

1. Hadits Membayarkan Hutang Orang Telah Meninggal

1. Wali Menggantikan Puasa

Selanjutnya Abu Syuja’ rahimahullah berkata:

Barangsiapa memiliki utang puasa ketika meninggal dunia, hendaklah dilunasi dengan cara memberi makan (kepada orang miskin), satu hari tidak puasa dibayar dengan satu mud.”

Satu mud yang disebutkan di atas adalah 1/4 sho’. Di mana satu sho’ adalah ukuran yang biasa dipakai untuk membayar zakat fithri. Satu sho’ sekitar 2,5-3,0 kg seperti yang kita setorkan saat bayar zakat fithri.

Yang lebih utama dari fidyah (memberi makan kepada orang miskin) adalah dengan membayar utang puasa dengan berpuasa yang dilakukan oleh kerabat dekat atau orang yang diizinkan atau ahli waris si mayit. Dalil yang mendukung hal ini hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 Barangsiapa yang meninggal dunia lantas masih memiliki utang puasa, maka keluarga dekatnya (walau bukan ahli waris) yang mempuasakan dirinya.” (HR. Bukhari no. 1952 dan Muslim no. 1147).

2. Membayarkan Hutang Puasa Ramadhan Ibu

Begitu pula hadits dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Ada seseorang pernah menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas ia berkata,

Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia dan ia masih memiliki utang puasa sebulan. Apakah aku harus membayarkan qodho’ puasanya atas nama dirinya?” Beliau lantas bersabda, “Seandainya ibumu memiliki utang, apakah engkau akan melunasinya?” “Iya”, jawabnya. Beliau lalu bersabda, “Utang Allah lebih berhak untuk dilunasi.” (HR. Bukhari no. 1953 dan Muslim no. 1148).”

Maka sabda Nabi pula: “Maka utang kepada Allah, lebih patut untuk dibayar.” Dan “berpuasalah untuk ibumu”.

Menurut Nawawi: “Pendapat ini adalah pendapat yang benar serta pilihan yang juga menjadi keyakinan kita!” Dia juga berpendapat yang telah disahkan oleh teman-teman sejawat kita. Peneliti hadits-hadits sah dan nyata ini,yang terdiri dari ahli-ahli fikih maupun ahli-ahli hadits.
Jadi jelas bahwa disyariatkan membayarkan hutang puasa orang yang meninggal dunia, terlebih kalau itu adalah orang tua sendiri.

 

3. Membayarkan hutang Puasa Nadzar

Kafarat puasa hendaknya diqadha dengan puasa sejumlah hari-hari yang ditinggalkan. Jika dalam kondisi berat untuk mengqadha puasa, diperbolehkan menggantinya dengan membayar fidyah.

Dalil bolehnya melunasi utang puasa orang yang telah meninggal dunia dengan menunaikan fidyah (memberi makan kepada orang miskin) adalah beberapa riwayat berikut,

Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Jika seseorang sakit di bulan Ramadhan, lalu ia meninggal dunia dan belum lunasi utang puasanya, maka puasanya dilunasi dengan memberi makan kepada orang miskin dan ia tidak memiliki qodho’. Adapun jika ia memiliki utang nazar, maka hendaklah kerabatnya melunasinya.” (HR. Abu Daud no. 2401, shahih kata Syaikh Al Albani).

Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan pula:

 “Barangsiapa masih memiliki utang puasa Ramadhan, ia belum sempat melunasinya lantas meninggal dunia, maka perlu dirinci. Jika ia menunda utang puasanya karena ada uzur lantas ia meninggal dunia sebelum memiliki kesempatan untuk melunasinya, maka ia tidak punya kewajiban apa-apa. Karena ini adalah kewajiban yang tidak ada kesempatan untuk melakukannya hingga meninggal dunia, maka kewajiban itu gugur sebagaimana dalam haji. Sedangkan jika uzurnya hilang dan masih memiliki kesempatan untuk melunasi namun tidak juga dilunasi hingga meninggal dunia, maka puasanya dilunasi dengan memberi makan kepada orang miskin, di mana satu hari tidak puasa memberi makan dengan satu mud.” (Al Majmu’, 6: 367).


Sesuai dengan firman Allah SWT, “Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan , (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari lain. Dan wajib bagi orang yang berat menjalankannya membayar fidyah” (QS al-Baqarah [2]: 184).

“Dari Ibnu ‘Umar, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Barangsiapa yang meninggal dunia lantas ia masih memiliki utang puasa sebulan, maka hendaklah memberi makan (menunaikan fidyah) atas nama dirinya bagi setiap hari tidak puasa” (HR. Tirmidzi no. 718).

Pembahasan di atas adalah bagi orang yang tidak puasa karena ada uzur (seperti sakit) lalu ia masih punya kemampuan dan memiliki waktu untuk mengqodho’ ketika uzurnya tersebut hilang sebelum meninggal dunia.

Sedangkan bagi yang tidak berpuasa karena uzur lantas tidak memiliki kemampuan untuk melunasi utang puasanya dan ia meninggal dunia sebelum hilangnya uzur atau ia meninggal dunia setelahnya namun tidak memiliki waktu untuk mengqodho’ puasanya, maka tidak ada qodho’ baginya, tidak ada fidyah dan tidak ada dosa untuknya.

Berdasarkan keterangan di atas, pendapat yang kuat untuk pelunasan utang puasa mayit dirinci menjadi dua:

 

-Pertama, jika utang puasa mayit adalah utang puasa ramadhan maka cara pelunasannya dengan membayar fidyah dan tidak diqadha. Tentang tata cara membayar fidyah bisa dipelajari Membayar Fidyah dengan Uang.

-Kedua, jika utang puasa mayit adalah puasa nadzar maka pelunasannya dengan diqadha puasa oleh keluarganya.

Intinya, orang yang dilunasi utang puasanya adalah orang yang masih memiliki kesempatan untuk melunasi qodho’ puasanya namun terlanjur meninggal dunia. Sedangkan orang yang tidak memiliki kesempatan untuk mengqodho’ lalu meninggal dunia, maka tidak ada perintah qodho’ bagi ahli waris, tidak ada kewajiban fidyah dan juga tidak ada dosa.(gdl)

 

 


Artikel Terkait

0 Komentar :


Tulis Komentar :
Nama
Email
Komentar
(Masukkan 6 kode diatas)