Banner_BKP2D_2017.jpg Banner_Dirgahayu_RI_Ke-74.jpg




Sekilas Info

 
BADAN KEPEGAWAIAN, PENDIDIKAN DAN PELATIHAN DAERAH
KABUPATEN PELALAWAN MENGUCAPKAN SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1440 H / 2019 M
MINAL AIDIN WAL FAIDZIN,
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN 
 

Kalender

Mari Kita Sholat Berjamaah sebagai Bekal di Kehidupan Dunia dan di Akhirat
Kamis, 20 April 2017-08:30:01WIB
Kategori: Agama - Dibaca: 347 kali

Saudara-saudaraku, Saat ini kita lihat di mana masjid-masjid kaum muslimin tampak megah dan indah dengan berbagai hiasan dan aksesoris di dalamnya. Namun sangat disayangkan masjid-masjid tersebut sering kosong dari jama’ah. Ini sungguh sangat mengherankan bukan? Kita kadang melihat masjid yang megah dan besar hanya dipenuhi satu shaf padahal jumlah kaum muslimin di sekitar masjid itu sungguh amat banyak.

Sebagai seorang muslim yang diberikan waktu seharusnya kita mampu menggunakannya dengan sebaik-baiknya. Karena semua itu akan menentukan keadaan kita esok di akhirat kelak. Dalam sebuah hadits disebutkan :

Abu Bakrah bahwa ada seseorang berkata; Wahai Rasulullah, siapa manusia yang paling baik? Beliau menjawab: “Orang yang panjang usianya dan bagus amalnya.” Orang itu bertanya lagi; Siapa manusia yang paling hina? Beliau menjawab: “Orang yang panjang usianya dan buruk amalnya.”

Salah satu amal yang baik adalah sholat berjamaah, seringnya kita meninggalkan maka bisa jadi itu akan menjadikan kita sebagai manusia yang buruk pula, selain itu sholat berjamaah mempunyai banyak keutamaannya.

Dalam sebuah riwayat disebutkan, Ibnu Mas’ud mengatakan:

“Barangsiapa yang ingin berjumpa dengan Allah kelak di akhirat sebagai seorang muslim maka hendaklah dia menjaga sholat-sholat wajib itu dengan menghadirinya ketika adzan dikumandangkan. Sungguh, aku teringat, dahulu jika ada orang yang sengaja meninggalkan sholat jama’ah, dia pasti orang munafiq yang diketahui dengan jelas kemunafikannya. Dulu pernah ada seorang sahabat yang dibawa ke masjid dengan dipapah oleh dua orang, kemudian ditempatkan di shaf.” (HR. Muslim)

Masyaa Allah, sehebat itukah status shalat berjama’ah, sehingga memotivasi mereka untuk hadir, walaupun harus dipapah menuju masjid. Sahabat saja, orang yang telah dijamin Surga, begitu semangatnya menghadiri shalat berjamaah, lalu bagaimana dengan kita?

Shalat Jama’ah Memiliki Pahala yang Berlipat dari pada Shalat Sendirian

Sebagaimana yang sering kita dengar Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Shalat jama’ah lebih utama dua puluh tujuh derajat daripada shalat sendirian.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Sa’id Al Khudri, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Shalat jama’ah itu senilai dengan 25 shalat. Jika seseorang mengerjakan shalat ketika dia bersafar, lalu dia menyempurnakan ruku’ dan sujudnya, maka shalatnya tersebut bisa mencapai pahala 50 shalat.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Ibnu Baththol rahimahullah mengatakan, “Kadang keutamaan shalat jama’ah disebutkan sebanyak 27 derajat, kadang pula disebut 25 kali lipat, dan kadang juga disebut 25 bagian. Ini semua menunjukkan berlipatnya pahala shalat jama’ah dibanding dengan shalat sendirian dengan kelipatan sebagaimana yang disebutkan.” (Syarh Shohih Al Bukhari li Ibni Baththol, 2/271, Maktabah Ar Rusyd)

Dengan Shalat berjama’ah Akan Mendapat Pengampunan Dosa

Dari ‘Utsman bin ‘Affan, beliau berkata bahwa saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 “Barangsiapa berwudhu untuk shalat, lalu dia menyempurnakan wudhunya, kemudian dia berjalan untuk menunaikan shalat wajib yaitu dia melaksanakan shalat bersama manusia atau bersama jama’ah atau melaksanakan shalat di masjid, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya.” (HR. Muslim)

Maka Setiap Langkah Menuju Masjid Akan Terhitung Nilainya

Namun kenapa masih ada sebagian orang yang tidak mau mengambil keutamaan yang besar ini? Jalan pergi dan pulangnya saja akan mendapatkan ganjaran pahala. Setiap Langkah Kaki Ke Masjid Akan Dihitung Sedekah Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 Setiap langkah kaki berjalan untuk menunaikan shalat adalah sedekah baik jarak yang jauh maupun dekat”. (HR. Muslim)

Setiap Langkah Kaki Ke Tempat Shalat Dicatat Sebagai Kebaikan Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  “Setiap langkah menuju tempat shalat akan dicatat sebagai kebaikan dan akan menghapus kejelekan.” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shohih).

“Barangsiapa bersuci di rumahnya lalu dia berjalan menuju salah satu dari rumah Allah (yaitu masjid) untuk menunaikan kewajiban yang telah Allah wajibkan, maka salah satu langkah kakinya akan menghapuskan dosa dan langkah kaki lainnya akan meninggikan derajatnya.” (HR. Muslim)

Imam Bukhori meriwayatkan dari Abu Hurairah berkata:

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Shalat seorang laki-laki dengan berjama’ah dibanding shalatnya di rumah atau di pasarnya lebih utama (dilipat gandakan) pahalanya dengan dua puluh lima kali lipat. Yang demikian itu karena bila dia berwudlu dengan menyempurnakan wudlunya lalu keluar dari rumahnya menuju masjid, dia tidak keluar kecuali untuk melaksanakan shalat berjama’ah, maka tidak ada satu langkahpun dari langkahnya kecuali akan ditinggikan satu derajat, dan akan dihapuskan satu kesalahannya.

Malaikat pun akan mendo’akan salah seorang di antara mereka selama dia berada di tempat dia shalat. Malaikat tersebut nantinya akan mengatakan: “Ya Allah, rahmatilah dia. Ya Allah, ampunilah dia. Ya Allah, terimalah taubatnya”. Hal ini akan berlangsung selama dia tidak menyakiti orang lain (dengan perkataan atau perbuatannya) dan selama dia dalam keadaan tidak berhadats.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Apakah Orang Buta Tidak di Wajibkan Sholat Berjama’ah?

Jawabannya adalah wajib, Orang buta ini tidak dibolehkan shalat di rumah apabila dia mendengar adzan. Hal ini menunjukkan bahwa memenuhi panggilan adzan hukumnya adalah wajib dengan menghadiri shalat berjama’ah.

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah dia berkata; “Seorang buta (tuna netra) pernah menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berujar “Wahai Rasulullah, saya tidak memiliki seseorang yang akan menuntunku ke masjid.” Lalu dia meminta keringanan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk shalat di rumah. Ketika sahabat itu berpaling, beliau kembali bertanya: “Apakah engkau mendengar panggilan shalat (adzan)?” laki-laki itu menjawab; “Benar.” Beliau bersabda: “Penuhilah seruan tersebut (hadiri jamaah shalat).”

Hal ini ditegaskan kembali dalam hadits Ibnu Ummi Maktum. Dia berkata:

“Wahai Rasulullah, di Madinah banyak sekali tanaman dan binatang buas. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kamu mendengar seruan adzan hayya ‘alash sholah, hayya ‘alal falah? Jika iya, penuhilah seruan adzan tersebut”.” (HR. Abu Daud. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.)

“Adapun shalat berjama’ah, aku tidaklah memberi keringanan bagi seorang pun untuk meninggalkannya kecuali bila ada udzur.”

Sedangkan udzur bagi laki-laki yang memperbolehkan seorang muslim untuk meninggalkan shalat berjamaah di masjid adalah sakit, lumpuh, hanya memiliki satu kaki atau karena situasi yang tidak memungkinkan untuk mendatangi masjid seperti : cuaca yang sangat dingin, hujan lebat, jarak rumah dengan masjid yang terlalu jauh dan sulit untuk dicapai, banyak binatang buas atau yang lainnya sebagaimana apa yang diriwayatkan Imam Muslim dari Ibnu Umar bahwasanya dia melakukan adzan untuk sholat pada suatu malam yang dingin, angin dan hujan kemudian diakhir adzannya dia mengucapkan,”Sholatlah kalian di rumah-rumah kalian, sholatlah kalian di rumah-rumah kalian.” Kemudian dia mengatakan,”Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memerintahkan muadzin apabila malam begitu dingin atau hujan lebat dalam suatu perjalanan hendaklah ia menyebutkan sholatlah kalian di rumah-rumah kalian.” (HR. Muslim)

Bagaimana Dengan Seorang Wanita? Apakah shalat berjama’ah wajib hukumnya?

Shalat berjama’ah dimesjid adalah perkara yang lazim namun Shalat berjama’ah tidaklah wajib hukumnya bagi wanita dan ini berdasarkan kesepakatan para ulama kaum muslimin. Akan tetapi shalat berjama’ah tetap dibolehkan bagi wanita secara global menurut mayoritas ulama. Syaikh Sholeh Al Fauzan –hafizhohullah– ketika ditanya apakah wanita wajib mengerjakan shalat secara berjama’ah setiap melaksanakan shalat fardhu?

Beliau –hafizhohullah– menjawab, “Wanita tidak wajib melaksanakan shalat secara berjama’ah. Shalat jama’ah hanya wajib bagi laki-laki. Para wanita tidak wajib mengerjakan shalat secara berjama’ah, akan tetapi boleh atau mungkin dianjurkan bagi mereka melaksanakan shalat secara jama’ah dengan imam di antara mereka (para wanita). Namun sebagaimana yang kami katakan bahwa imam mereka berdiri di antara shaf yang ada (bukan maju ke depan)” (Fatawa Al Mar’ah Al Muslimah, hal. 103, Dar Ibnul Haitsam)

Wanita tetap diperkenankan mengerjakan shalat berjama’ah dimesjid, namun Shalat yang terbaik bagi seorang wanita adalah sholat di rumah-rumah mereka, dan dibolehkan baginya untuk mendatangi masjid melaksanakan shalat berjamaah selama ia bisa menjaga dirinya dari hal-hal yang bisa mendatangkan fitnah terhadap orang-orang di sekitarnya.

 

Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 Janganlah kalian melarang istri-istri kalian untuk ke masjid, namun shalat di rumah mereka (para wanita) tentu lebih baik.” (HR. Abu Daud. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

3 syarat yang harus dipenuhi wanita jika ingin melakukan shalat berjama’ah di masjid

Pertama, minta izin kepada suami atau mahrom terlebih dahulu dan hendaklah suami tidak melarangnya.
Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

 Jika istri kalian meminta izin pada kalian untuk ke masjid, maka izinkanlah mereka.” (HR. Muslim).

Kedua, tidak boleh menggunakan harum-haruman dan perhiasan yang dapat menimbulkan fitnah.
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 Wanita mana saja yang memakai harum-haruman, maka janganlah dia menghadiri shalat Isya’ bersama kami.” (HR. Muslim)

Ketiga, jangan sampai terjadi ikhtilath (campur baur yang terlarang antara pria dan wanita ) ketika masuk dan keluar dari masjid.

Dalilnya adalah hadits dari Ummu Salamah:

 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam salam dan ketika itu para wanita pun berdiri. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tetap berada di tempatnya beberapa saat sebelum dia berdiri. Kami menilai –wallahu a’lam- bahwa hal ini dilakukan agar wanita terlebih dahulu meninggalkan masjid supaya tidak berpapasan dengan kaum pria.” (HR. Bukhari).

Barang siapa yang menjaga sholat berjama’ah maka ia akan hidup dan mati dalam keadaan baik. Ini adalah merupakan tujuan hidup kita, sebagai manusia kita pasti ingin hidup penuh dengan kebahagian dunia maupun di akhirat. Jadi salah satu kuncinya adalah Mari kita sholat berjamah di masjid.

Semoga artikel ringkas ini bermanfaat bagi kaum muslimin sekalian terutama buat pribadi saya, dan semoga Allah membuka hati setiap muslim untuk tergerak mengerjakan shalat berjama’ah dan memakmurkan masjid-masjid mereka, amiiin..(spt)

 


Tulis Komentar :
Nama
Email
Komentar
(Masukkan 6 kode diatas)