Banner_BKP2D_2017.jpg Banner_Dirgahayu_RI_Ke-74.jpg




Sekilas Info

 
BADAN KEPEGAWAIAN, PENDIDIKAN DAN PELATIHAN DAERAH
KABUPATEN PELALAWAN MENGUCAPKAN SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1440 H / 2019 M
MINAL AIDIN WAL FAIDZIN,
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN 
 

Kalender

Arah Baru Pemberdayaan Aparatur
Selasa, 28 Juni 2016-08:18:40WIB
Kategori: Pengetahuan - Dibaca: 653 kali

A.      Pemberdayaan Sebagai Kebutuhan

 

       Ketatnya persaingan global dan besarnya tuntutan publik akan mutu (quality) Aparatur Pemerintah, menjadi tantangan besar yang mesti dihadapi oleh pimpinan dan organisasi pemerintah. Pandangan  negatif yang selama ini muncul dan telah menjadi budaya yang mengakar ditengah tengah masyarakat, diantaranya bahwa seorang Pegawai Negeri Sipil itu adalah pemalas, kurang disiplin, koruf, tidak kompeten, tidak punya inisiatif, dan kesan kesan negatif laniya, telah menjadi pukulan telak dan cambuk yang menyakitkan yang mesti segera diperbaiki. Aparatur Sipil Negara dituntut untuk memiliki nilai lebih, disiplin, kreatif, inovatif, serta menguasai ilmu pengetahuan dan tekhnologi terbaru, sehingga akan menghasilkan sumber daya manusia aparatur yang berkualitas tinggi untuk mendapatkan keunggulan kompetitif dan berdaya saing dan kesan kesan negatif yang selama ini tertanam pada diri Aparatur pemerintahan dengan sendirinya akan hilang seiring dengan keberhasilan pimpinan dan organisasi dalam memberdayakan para aparaturnya.

 

       Pemberdayaan Aparatur  adalah merupakan salah satu strategi untuk mewujudkan aparatur yang unggul dalam kinerjanya. Terdapat berbagai strategi yang digunakan organisasi untuk mengembangkan dan memperbaharui kemampuan dan keahlian aparatur dalam menghadapi berbagai permasalahan  organisasi. Pemberdayaan merupakan salah satu cara  pengembangan aparatur melalui employee involvement, yaitu dengan memberi wewenang tanggung jawab yang cukup untuk menyelesaikan tugas dan pengambilan keputusan.

 

       Pemberdayaan aparatur menjadi sesuatu hal yang sangat signifikan, strategis, dan komprehensif bagi setiap proses aktivitas organisasi dalam mewujudkan kinerja sebagaimana diharapkan. Dengan pemberdayaan tersebut, aparatur menentukan survive-nya organisasi karena aparatur menjadi lebih percaya diri, bertanggung jawab, kreatif, dan inovatif dalam merespon berbagai perubahan yang sangat dinamis saat ini.  Dengan pemberdayaan, aparatur akan menunjukkan lebih mempunyai otonomi untuk berinisiatif, semakin produktif dan hasil pekerjaannya menjadi lebih berkualitas.

 

       Pemberdayaan aparatur secara umum dimaksudkan bahwa aparatur  tersebut menjadi lebih berdaya dari sebelumnya, baik dalam hal wewenang, tanggung jawab maupun kemampuan individual yang  dimilikinya. Sumber daya manusia dimaksudkan sebagai daya yang bersumber dari manusia. Daya yang bersumber dari manusia ini dapat pula dinamakan  tenaga atau kekuatan yang melekat pada manusia itu sendiri dalam arti dapat ditunjukkan dalam hal tenaga, daya, kemampuan, kekuatan, keberadaan, peranan, wewenang dan tanggung jawab serta memiliki kompetensi berupa kemampuan, pengetahuan, keterampilandan sikap  yang baik.

 

       Tujuan organisasi akan sulit dicapai, bila para aparatur tidak mau menggali potensi yang ada dalam dirinya untuk bekerja semaksimal mungkin. Oleh karena itu, tugas pimpinan atau organisasi yang mesti segera dilaksanakan adalah bagaimana agar para aparaturnya tetap bergairah dalam bekerja dan selalu mempunyai perilaku positif dalam melakukan tugas-tugasnya, dengan demikian diharapkan dari para aparatur akan timbul keinginan untuk berbuat dan bekerja dengan baik sesuai dengan tuntutan dan keinginan organisasi.        

 

Dengan adanya pemberian motivasi yang tepat ini diharapkan  mereka akan terdorong untuk bekerja lebih baik, pada diri mereka akan timbul keyakinan bahwa dengan bekerja baik, tujuan organisasi akan dapat lebih mudah dicapai, sehingga tujuan pribadi juga akan terpenuhi.

 

       Pemberian wewenang merupakan alat atau dasar hukum untuk bertindak atau  mengatur dan mengembangkan kemampuannya dalam menyelesaikan tugas dan tanggung jawabnya ke arah yang lebih positif. Kepada para aparatur perlu diberikan dorongan moril atau semangat juang, dengan demikian para aparatur dalam melaksanakan tugas-tugasnya adalah dengan semangat yang tinggi dan penuh dengan ketulusan serta kegembiraan.

 

B.       Hambatan dan Motivasi

 

       Selaian komponen pendukung pemberdayaan aparatur terdapat beberapa hambatan dalam usaha menciptakan pemberdayaan bagi aparatur, hambatan ini harus secepatnya  dihilangkan, misalnya menghilangkan atau menyederhanakan ketentuan-ketentuan atau aturan atauran yang tidak perlu, orang-orang atau rekan rekan kerja  yang sengaja menghalangi untuk menuju perubahan kearah yang baik, manusia manusia yang pesimis, berbagai prosedur administratif yang menghambat serta kendala-kendala teknis lainnya. Dalam usaha ini, tidak menutup kemungkinan diperlukan memindahkan aparatur yang tidak dapat menyesuaikan diri terhadap kebutuhan pemberdayaan tersebut ketempat yang kurang berpengaruh dan peninajuan semua regulasi  yang menghambat terciptanya perubahan,dan Pada prinsipnya bahwa segala hambatan upaya pemberdayaan aparatur harus diatasi, atau paling tidak diminimalisasi.

 

       Selanjutnya Tindakan-tindakan sikap pimpinan maupun seluruh aparatur yang perlu disingkirkan di antaranya adalah sikap pesimisme serta kecenderungan menghukum secara keras kesalahan-kesalahan dan merendahkan kemampuan pegawainya. Bila hal ini terjadi maka mustahil akan dicapai pemberdayaan aparatur yang sesungguhnya dalam organisai.

Diperlukan sikap yang lebih positif dan realistis akan kesadaran atas kekurangan/kegagalan dan kelebihan/keberhasilan yang pernah kita alami, sehingga kita akan berharap orang lain juga akan mampu berprestasi seta berhasil dalam kariernya.

 

      Dalam kaitan dengan motivasi, terdapat hal yang perlu ditekankan bahwa seorang pimpinan tidak akan mampu bekerja sendirian dalam suatu organisasi, karena itu keberhasilannya amat ditentukan oleh hasil kerja yang dilakukan oleh orang lain yaitu bawahan. Untuk melaksanakan tugas sebagai seorang pimpinan, ia harus membagi-bagi tugas dan pekerjaan tersebut kepada seluruh bawahan yang ada dalam unit kerja tersebut. Apabila semua tugas telah dibagi-bagikan, maka pimpinan yang bersangkutan harus mempunyai satu sistem yang baik untuk mengetahui apakah pekerjaan tersebut benar-benar dikerjakan atau tidak oleh bawahan.

 

      Aparatur adalah manusia hidup yang mempunyai perasaan, pikiran, harga diri, keinginan, dan perilaku yang amat sukar untuk digeneralisasi secara umum. Seorang pimpinan mustahil dapat memberi motivasi yang sama kepada aparatur lainya, karena faktor-faktor yang mendorong seorang aparatur untuk bekerja amat berbeda dengan faktor yang mendorong aparatur lainnya. Contoh, dalam suatu unit kerja ada aparatur yang selalu bekerja tekun, mempunyai potensi tinggi dan loyal terhadap organisasi. Tetapi selain itu ada pula aparatur lainya  yang bersikap malas bekerja, tidak mempunyai semangat untuk bekerja giat. Dalam situasi demikian, tidak mungkin seorang pimpinan menggunakan satu saja alat motivasi sebagai senjata yang baik dalam menggerakkan para aparaturnya untuk dapat bekerja sesuai dengan yang diinginkan.

 

      Pemberian Otonomi kepada para aparatur bisa memberikan dorongan untuk meningkatkan kinerjanya, pemberian otonomi kepada aparatur  tersebut  dalam artian bahwa  para aparatur  diberikan hak, wewenang, dan kewajiban untuk mengatur dan mengurus tugas-tugasnya sesuai dengan tanggung jawabnya berdasarkan ketentuan yang ada. Kepercayaan dimaksudkan bahwa kepada para aparatur diserahi oleh atasan atau pimpinan yang lebih tinggi untuk melaksanakan tugas sesuai kompetensinya, mendapatkan hak-haknya sesuai ketentuan, menjalankan wewenang yang dimiliki serta melakukan pengendalian demi keberhasilan tugas agar lebih efektif dan efisien. Terakhir bahwa untuk memberdayakan para aparatur tersebut, maka diperlukan keterlibatan mereka baik dalam merencanakan tugas, mengimplementasikan rencana tugas serta mengendalikan rencana tugas.

 

Dengan komitmen yang tinggi dan sungguh-sungguh untuk terwujudnya pemberdayaan aparatur yang  dibarengi dengan kerja keras, serta keiklasan terutama dari unsur pimpinan untuk mendelegasikan sebagian wewenang yang dimiliki kepada staf di bawahnya. Memberikan otonomi secara penuh kepada staf untuk mengembangkan kreativitas dan inovasi-inovasi baru guna mencapai sasaran-sasaran, dan tujuan organisasi yang sudah ditetapkan dan disetujuai  bersama.

 

              C.   Arah Positif Menuju Perubahan

 

     Terdapat beberapa  manfaat yang bisa dihasilkan dari Pemberdayaan Aparatur diantaranya adalah Pemberdayaan merupakan sebagai alat manajemen dalam rangka memberdayakan berbagai sumber untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Terhadap manfaat tersebut yaitu aparatur yang telah diberikan kebebasan berkreativitas, diberikan kepercayaan yang tinggi, serta dilibatkan dalam setiap pengambilan keputusan, maka tujuan organisasi akan semakin mudah dicapai secara optimal.

 

     Selanjutnya, manfaat pemberdayaan pegawai adalah sebagai pembaharu manajemen dalam rangka meningkatkan kinerja organisasi. Peningkatan kinerja tersebut adalah baik secara kuantitatif (jumlah) maupun kualitatif (mutu) kinerja yang dihasilkan. Pelayanan yang berkualitas adalah pelayanan yang memenuhi unsur kecepatan dalam pelayanan yaitu target waktu pelayanan yang dapat diselesaikan dalam waktu yang telah ditentukan oleh unit penyelenggaraan pelayanan. Ketepatan dalam pelayanan, adalah pelayanan yang diberikan benar-benar sesuai dengan yang dibutuhkan. Kemudahan dalam pelayanan, adalah kemudahan dalam pemberian pelayanan kepada masyarakat. Pada umumnya masyarakat menginginkan agar pelayanan sipil yang disediakan oleh pemerintah dekat dengannya sehingga mudah diperoleh. Keinginan dekat dengan pelayanan, sangat berkaitan dengan masalah distribusi, yaitu bagaimana birokrasi pemerintahan berupaya mendekatkan pelayanan kepada masyarakat tanpa melewati jenjang-jenjang yang melelahkan dan dengan biaya yang semurah mungkin. Kenyamanan dalam pelayanan, adalah kenyamanan lingkungan, yaitu kondisi sarana dan prasarana pelayanan yang bersih, rapi dan teratur sehingga dapat memberikan rasa nyaman kepada penerima pelayanan.

 

     Selanjutnya pemberdayaan aparatur bermanfaat sebagai inisiator terhadap organisasi dalam rangka memanfaatkan peluang guna meningkatkan dan mengembangkan organisasi. Inisiatif pegawai dapat dimunculkan dari kreativitas yang merupakan daya pikir dan semangat yang memungkinkan aparatur untuk mengadakan sesuatu yang memiliki kegunaan, tatanan, keindahan, atau arti penting dari sesuatu yang kelihatannya tidak ada bagi organisasi.

 

Dalam kaitan ini, kepada pegawai diharapkan muncul inisiatif-inisiatif, gagasan-gagasan segar dan baru dalam mencari cara-cara baru guna mempercepat pencapaian sasaran maupun tujuan organisasi. Daya pikir di sini adalah sesuatu yang memiliki kegunaan, memiliki tatanan, dan sesuatu yang memiliki unsur keindahan.

 

Selanjutnya, pemberdayaan aparatur bermanfaat sebagai mediator terhadap pihak lain dalam rangka meningkatkan kinerja organisasi. Mediator di sini lebih menekankan pada aspek hubungan yang bersifat koordinasi, mitra kerja, atau tim kerja sama antar instansi dalam rangka pelaksanaan suatu pekerjaan. Tindakan mediator di sini adalah sesuatu yang sangat positif bagi suatu organisasi, dalam rangka tugas-tugas yang harus diselesaikan. Dengan adanya kerja sama stakeholders yang dibangun secara konstruktif tersebut, hal ini akan menghasilkan kinerja yang lebih optimal, serta memupuk persahabatan antar dan intern organisasi.

 

Terakhir, manfaat pemberdayaan adalah adalah sebagai pemikir dalam rangka pengembangan organisasi. Pemikir di sini dalam artian bahwa aparatur sebagai subjek bukan objek, yaitu dengan aparatur yang berdaya tersebut maka diharapkan muncul inovasi inovasi, pemikiran-pemikiran, pengetahuan-pengetahuan baru, keterampilan-keterampilan baru, gagasan-gagasan baru yang sangat bermanfaat bagi keberhasilan organisasi.
Artikel Terkait

0 Komentar :


Tulis Komentar :
Nama
Email
Komentar
(Masukkan 6 kode diatas)