Banner_BKP2D_2017.jpg Banner_Dirgahayu_RI_Ke-74.jpg




Sekilas Info

 
BADAN KEPEGAWAIAN, PENDIDIKAN DAN PELATIHAN DAERAH
KABUPATEN PELALAWAN MENGUCAPKAN SELAMAT HARI JADI KABUPATEN PELALAWAN KE - 20 PADA TANGGAL 12 OKTOBER 2019
  
 

Kalender

Hijrah dari hal yang Buruk ke ke hal yang baik
Selasa, 29 Maret 2016-16:29:13WIB
Kategori: Motivasi & Inspirasi - Dibaca: 603 kali

Manusia diciptakan oleh Allah SWT sebagai makhluknya yang paling sempurna, dan dijadikan-Nya kalifah di muka bumi ini. Namun dari kesempurnaan yang telah Allah berikan kepada Kita terdapat juga kelemahan dan kekurangan dalam diri seorang manusia. Karena pada manusia Allah telah menganugrahkan dua potensi yakni akal (fikiran) dan nafsu.

Dua sisi berbeda dari jiwa manusia ini, yang satu mengarah kepada kebaikan dan yang satunya lagi mengarah kepada kejahatan. Bijaksana atau tidaknya seseorang bergantung pada dua sisi jiwa orang itu. Al-Qur'an memberitahu kita bahwa tingkah laku yang mengikuti nafsu adalah tidak bijaksana. Sebaliknya, setia kepada sisi baik dari jiwa membawa kepada kebijaksanaan.

Seseorang yang menjadi budak dari hawa nafsunya tidak dapat mengisi hatinya dengan ingat kepada Allah, maka dengan segera dia kehilangan kebijaksanaan. Al-Qur'an merujuk orang-orang seperti ini sebagai orang-orang yang kehilangan kebijaksanaan. (Al-Hasyr:14). Awalnya memang tak dapat dipahami. Sebab kebanyakan orang menganggap bahwa semua orang itu bijaksana dan menganggap bahwa kebijaksanaan itu tidak pernah berubah. Namun ada hal yang lebih membingungkan seputar perbedaan kebijaksanaan dan kecerdasan. Orang menganggap bahwa keduanya sama padahal berbeda. Setiap orang dapat memiliki kecerdasan tetapi kebijaksanaan hanya dimiliki oleh orang-orang yang beriman.

Dengan mengetahui bahwa sisi jahat jiwa dapat membuat seseorang kehilangan kebijaksanaan, maka kita harus tahu bagaimana cara memperoleh kebijaksanaan. Jawabannya jelas. Seseorang memperoleh kebijaksanaan ketika dia mematuhi kesadarannya yang memberinya cara untuk menghalangi sisi jahat dari jiwanya mengambil alih.

 

Dari dua potensi yang dimiliki oleh manusia tadi Allah telah menetapkan qodho dan qodarnya, namun Allah juga memberikan kebebasan kepada kita untuk memilihnya. Apakah kita memilih untuk hidup hidup Mulia dan bahagia atau malah sebaliknya hidup terhina dan sengsara.

Semua kebebasan yang telah Allah berikan kepada kita hendaknya dapat kita pergunakan dengan bijaksana agar nantinya kita terhindar dari kehinaan yang akan Allah timpahkan kepada kita. Untuk itu kita hendaknya dapat memposisikan dimana diri kita akan berada, dibawah panji-panji kebenarankah atau di jalan kemaksiatan.

 

 

Perlu kita ketahui, bahwasannya Allah SWT selalu akan manguji keimanan dan keiklhasan umat manusia, adapun bentuk ujian Allah selalu akan di sesuaikan dengan kemampuan dan potensi yang dimiliki oleh manusia tersebut antara lain :

 

1.       Manusia akan diuji Allah dengan cobaan-cobaan hidup yang berat;

Terkadang manusia seringkali berkeluh kesah apabila ada kesulitan atau permasalahan hidup yang menimpah dirinya. Dan tidak jarang pula yang berfikiran negatiif kepada Allah, menuduh Allah tidak adillah, Allah Kejam dan tidak mau membantu hamba-hambanya. Padahal pada saat itulah ketentuan Allah tengah berlaku kepada kita. Allah ingin menguji ketabahan dan keimanan kita.

 

2.       Allah Akan memberikan kesenangan-kesenangan dan kemudahan dunia;

Dalam hal ini Allah mencoba menguji sikap kedarmawanan juga keikhlasan kita. Pada masa kesenangan-kesenangan tersebut datang kepada kita, apakah kita mampu untuk menyisihkan harta atau ilmu bahkan kebajikan-kebajikan lain yang mungkin orang lain butuhkan dari kita.

 

3.       Allah juga akan menguji ketetapan iman kita dengan dua pilihan;

Seringkali kita dihadapkan kepada dua pilihan di dalam menghadapi persoalan hidup ini. Untuk itu semua terpulang kepada kita masing-masing pilihan mana yang akan kita ambil. Apakah pilihan itu merupakan sesuatu hal yang baik buat kita dan orang lain ataupun malah sebaliknya pilihan yang kita ambil malah akan berdampak buruk baik kepada kita maupun orang lain.

 

Berbagai cobaan yang diberikan Allah kepada kita, sudah sepatutnyalah kita dapat menyikapinya secara bijaksana dan penuh dengan pertimbangan-pertimbangan yang baik dan dengan cara yang arif dan santun pula antara lain :

 

a. Selalu berbaik sangka kepada Allah

Berbicara mengenai iman adalah bagaimana kita meyakini sesuatu apapun tanpa dengan adanya keraguan lagi. Terlebih-lebih kepercayaan / keyakinan kita kepada Allah zat yang maha agung, seyogyanyalah kita mengimaninya dengan sebenar-benarnya iman. Sehingga dengan demikian kita akan sentiasa berserah diri kepada Nya, walaupun apa kondisi yang tengah berlaku dan yang tengah kita hadapi saat ini. Seringkali manusia apabila diuji dengan cobaan-cobaan hidup yang berat dan atau tidak menyenangkan bagi dirinya, lantas berkeluh kesah dan berprasangka buruk kepada Allah. Padahal sikap yang seperti ini adalah perbuatan yang amat sangat tidak pantas kita lakukan. Bayangkanlah ketika kita mendapat perlakuan yang menyakitkan dari sesama manusia, kita bahkan terkadang tidak berdaya menghadapinya karena di selimuti dengan fikiran dan perasaan yang serba salah. Jika yang berbuat itu adalah teman sejawat, kita takkan berani marah kepadanya karena takut akan merusak persahabatan kita kepadanya. Jika yang berbuat itu adalah tetangga kita, kita mungkin masih bisa bertenggang rasa karena hendak menjaga kerukunan sesama warga. Dan apatah lagi yang berbuat itu adalah Atasan kita, kita mungkin tidak akan bisa berkata apa-apa, karena kawatir akan jabatan kita. Bahkan apalagi yang berbuat itu justru orangtua, saudara-saudara, dan orang-orang terdekat kita. Mungkin sikap kita hanya acuh dan biasa-biasa saja.

 

b. Jangan Ria dan suka berhura-hura

Harta, Tahta dan bahkan Wanita, seringkali akan menyesatkan manusia, karena ketiganya merupakan kesenangan dan keinginan yang hendak diraih oleh setiap manusia. Bahkan tak jarang untuk memperoleh dan mendapatkannya manusia seringkali melakukan tipu daya dan jalan paksa bahkan sampai menumpahkan darah dan merenggut korban jiwa. Padahal sebenarnya merekalah yang tengah tertipu oleh perhiasan dunia ini. Betapa banyak cerita-cerita dan kisah para Nabi dan Rosul yang telah mengingatkan kita akan hal ini, seumpamanya cerita Korun yang akhirnya mati ditimbun oleh gelimangan hartanya sendiri, Kisah kedengkian saudara-saudara Nabi Yusuf yang hendak menyelakai adik mereka sendiri yakni Nabi Yusuf yang pada akhirnya diberikan tahta  kerajaan di Mesir, kisah serupa juga di ceritakan dalam sejarah Firaun yang berkuasa dengan begitu serakah hingga akhirnya malah menasbihkan dirinya sebagai Tuhan. Dan yang terakhir tentang wanita dapat kita temukan pada kisah raja Namrut yakni seorang raja yang sangat lalim dan zalim, yang senang dengan kejelitaan wanita-wanita cantik, yang pada akhirnya di beri kelumpuhan oleh Allah ketika Hendak merebut istri Nabi Ibrahim. Tidakkah kita bisa mengambil suatu pelajaran dari kisah-kisah tersebut di atas?

 

c. Menyikapi musibah dan ujian hidup secara bijak

Menyikapi ujian-ujian Allah yang ditimpahkannya kepada kita, selain kedua hal di atas, sebenarnya Allah telah memberikan alternatip yang sempurna kepada kita. Yakni dengan kecendrungan manusia untuk dapat memilah dan memilih mana yang terbaik bagi dirinya. Bukankah kesempurnaan penciptaan manusia dengan diberkannya kita fikiran dan akal untuk menentukan kabaikan dan keburukan kah yang akan kita pilih buat kita.

 

Bercermin dari urain di atas dapatlah kita simpulkan bahwasannya setiap ujian dan cobaan-cobaan yang diberikan Allah kepada kita, selalu dipulangkan kepada kita masing-masing untuk menyikapinya. Semua ini semata-mata hanyalah untuk menguji keimanan kita. Tinggal lagi bagaimana upaya kita untuk bisa lulus dari ujian dan cobaan ini, bisa bersabarkah atau malah berkeluh kesah. Untuk itu kiranya beberapa solusi permasalahan yang coba penulis sarankan kepada pembaca dan dijadikan salah satu acuan bagi kita semua, diantaranya :

 

1.     Kita senantiasa berupaya mendekatkan diri kepada Allah SWT, sehingga hati ini selalu tenang dan ikhlas menerima cobaan yang diberikan oleh Allah SWT kepada kita. Sehingga hilanglah  perasaan curiga dan berburuk sangkah kita kepada Allah SWT. Dan kita dapat menjalankan dan melalui hidup ini secara tanang, ikhlas dan bersahaja.

 

2.     Kita senantiasa harus memelihara sikap hidup yang sederhana, hal ini sangatlah berguna bagi ketawadukan kita selaku insan manusia yankni hamba Nya yang hina dina ini, agar kesombongan dan sikap yang berhura-hura dapat kita kikis dari dalam lubuk sanubari kita. Sehingga dengan demikian hilanglah sifat ria dan perbuatan yang sering berpesta foya, dan pada akhirnya menghantarkan kita pada sosok insan yang sederhana.

 

 

3.     Kearifan jiwa kita sangatlah menentukan bagi kita dalam menyikapi persoalan hidup secara bijaksana, sehingga setiap keputusan-keputusan yang kita ambil tidak akan menjerumuskan kita ke lembah permasalahan yang lebih dalam lagi. Dengan demikian hati kita selalu dapat kita jaga dari segala sakwa sangka kita baik kepada Allah maupun sesama manusia. Secara luas kearifan sikap kita ini berlaku juga bagi setiap makhluk hidup ciptaan Nya. Karena bukankah manusia diciptakan Allah dimuka bumi ini untuk dijadikan sebagai kalifah yang merupakan wakil Allah SWT agar kehidupan di dunia (bumi) ini penuh dengan dinamika dari hasil karya tangan-tangan manusia.

 

Demikian beberapa Solusi yang dapat saya sarankan kepada kita semua, sehingga nantinya kita memperoleh hikmah dari apa yang kita alami saat ini. Dan pada akhirnya dapat menjadikan kita sebagai insan-insan yang senantiasa bersyukur dan berserah diri kepada Allah zat yang maha agung dan sempurna

 

Solusi yang penulis sampaikan kepada kita ini mungkin masih jauh dari tahap kesempurnaan, diantara solusi-solusi lainnya yang mungkin ada. Baik itu yang berasal dari pemikiran kita selaku insan biasa maupun mungkin yang berasal atas petunjuk dan tuntunan Allah SWT kepada kita semua. Untuk itu sekiranya ada ketidak cocokan diantara pemikiran kita, masrilah semua ini kita serahkan dan kembalikan kepada Allah SWT, demi kemaslahatan dan kerukunan kita bersama.

 

Semoga Allah sentiasa bembrikan taufik dan Hidayahnya dalam perjalanan “Hijrah hati kita dari hal-hal yang buruk ke hal yang lebih positif dan baik lagi”. Amin…………………


Artikel Terkait

0 Komentar :


Tulis Komentar :
Nama
Email
Komentar
(Masukkan 6 kode diatas)