Banner_BKP2D_2017.jpg Banner_Dirgahayu_RI_Ke-74.jpg




Sekilas Info

 
BADAN KEPEGAWAIAN, PENDIDIKAN DAN PELATIHAN DAERAH
KABUPATEN PELALAWAN MENGUCAPKAN SELAMAT HARI JADI KABUPATEN PELALAWAN KE - 20 PADA TANGGAL 12 OKTOBER 2019
  
 

Kalender

Termenung Manis Di Bilik Kecil (Belajar Dari Alam)
Selasa, 29 Maret 2016-16:28:24WIB
Kategori: Motivasi & Inspirasi - Dibaca: 697 kali

Tidak ada sesuatupun ciptaan Allah di dunia ini yang sia-sia. Melainkan berguna bagi kemaslahatan semua makhluk ciptaan - Nya. Bahkan Sekecil apapun itu semuanya sangatlah bermakna bagi kehidupan kita. Semua ini tercermin dalam suatu ibadah yang kita kenal dengan ibadah sholat, karena di dalamnya menggambarkan kebersihan/kesucian , kekhusukan dan ketawadukan hamba terhadap Sang Pencipta. Sebagaimana Firman Allah tentang Hukum wudhu’, mandi dan tayamum pada surat Al Maidah Ayat 6 Berikut berikut :

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak melaksanakan shalat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai ke kedua mata kaki. Jika kamu junub, maka mandilah. Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, maka jika kamu tidak memperoleh air, bertayammumlah dengan debu yang baik (suci); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan debu itu. Allah tidak ingin menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, agar kamu bersyukur.

Adapun manifestasi dari nilai-nilai yang terkandung dalam terjemahan ayat di atas dapat kita wujudkan dalam segala aspek kehidupan kita sehari-hari. Baik di lingkungan rumah tangga, masyarakat, pekerjaan atau disekolah-sekolah tempat kita beraktifitas sehari-hari. Disana banyak sekali kita temui aplikasi dari ibadah sholat yang kita lakukan selama ini tidak sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Di sana sini masih banyak kita temui penyimpangan-penyimpangan prilaku yang tidak lagi sesuai dengan akidah. Dimana yang benar bisa menjadi salah, yang salah bisa menjadi benar, yang layak tidak diberi tempat, yang tidak layak malah menjadi raja yang jujur akan hancur oleh keteguhan imannya, dan yang tidak amanah malah bisa berkuasa. Namun ingatlah semua ini hanyalah fenomena belaka, yang sifatnya hanyalah maya dan sementara bukannya bersifat baka seperti di alam akhir sana. Untuk itu janganlah kita sering berbangga-bangga atas apa yang ada pada kita saat ini.

Fenomena-fenomena di atas terjadi karena adanya pergeseran nilai-nilai budaya ditengah-tengah masyarakat kita. Dimana kita sering sekali menyepelekan hal-hal yang kecil yang kita anggap tidak penting, semisal berseraknya sampah di jalanan dan tempat-tempat umum lainnya penyimpangan-penyimpangan prilaku yang diperlihatkan anak-anak kita, dimana rasa hormat dan patuh terhadap orang tua, guru-guru dan orang yang dituakan di lingkungannya sampai dengan kurang santunnya sikap kita terhadap orang lain. Jikalaulah hal-hal seperti ini terus menerus kita tolerir dan biarkan lantas mau di bawa kemana agama dan bangsa kita?.Bukankah begitu banyak hal-hal yang kecil dapat menggagalkan perkara yang besar? Hal-hal yang sering terlupakan bisa menghapuskan realita yang hendak diwujudkan. Semua itu ibaratkan kerikil kecil yang suatu saat nantinya akan dapat menjegal kita untuk berbuat kebaikan dan kemaslahatan bagi umat.

Lalu dimana sifat sholat harus kita maknai? Berangkat dari pertanyaan besar tersebut, hendaknya kita mampu dan mau untuk segera mengaplikasikan sifat-sifat yang terkandung di dalam sholat ke dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dimulai dari hal yang terkecil yakni menjaga kebersihan / kesucian diri yang kita ambil dari makna berwuduk, berkonsentrasi dalam menjalankan suatu aktifitas sebagaimana khusuknya kita dalam sholat, bersifat tawaduk dalam kehidupan sebagaimana kita bersujud serta bertafakur dalam penghambaan diri kepada Ilahi. Bersifat jujur dan displin sebagaimana kita iklhas menjalankan sholat dan mentaati rukun-rukun sholat .Serta bersama-sama dalam kemaslahatan umat, sebagaimana kita berjamaah di dalam sholat.

Dari sifat dan nilai-nilai yang terkandung di dalam sholat dapat kita jadikan sebagai suatu momentum buat kita bersama untuk saling mengoreksi diri, agar kita dapat memperbaiki diri untuk menjadi insan yang bertakwa dan bernilai di sisi Allah SWT, sebagaimana kesempurnaan penciptaan kita. Sehingga mulai saat ini kita tidak lagi di sibukkan oleh hal-hal yang hanya bersifat keduniawian saja.

Untuk menyikapi persoalan dan fenomena di atas, penulis menyarankan beberapa cara yang dapat kita jadikan acuan atau referesni antara lain :

1.      Tidak menyepelekan hal-hal yang kecil

Pada fase ini kita dapat belajar dari alam, baik dari makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT, Maupun dari benda-benda yang dibuat oleh tangan manusia. Dalam hal ini penulis coba membawa analogi fikiran kita kepada prinsip kerja sebuah benda yang kita kenal dengan nama closet atau WC. Dimana closet atau WC ini memiliki dua jenis yang antara satu dengan yang lainnya memiliki prinsip kerja yang berbeda. Pada closet / WC duduk prinsip kerjanya memakai sistem hisap melalui pemencetan sebuah kran atau tombol pada sisi samping atau belakangnya, sedangkan pada closet / WC jongkok memakai prinsip kerja dengan sistem siraman air dengan memakai ember kecil (gayung) atau dengan kran berselang. Jika kita perhatikan dari kedua prinsip kerja closet / WC tersebut, dapatlah kita ambil suatu pelajaran yang bermakna, yakni tentang pengabaian hal-hal yang sepele. Karena ketika kita melihat kenyataan dari apa yang dihasilkan oleh kedua prinsip kerja closet / WC tersebut ketika kita sedang beristinjak dan membersikannya akan terdapat endapan sisa-sisa kotoran yang kecil-kecil dari sari makanan pada closet / WC jongkok, sedangkan pada closet / WC duduk dengan siraman/guyuran air yang deras dari ember kecil (gayung) semua sisa-sisa kotoran akan langsung bersih dan hilang. Jadi maknanya hal-hal yang kecil yang selama ini cendrung lupa dan diabaikan tidak serta merta akan mudah dibersihkan atau ditata kembali oleh suatu peraturan atau ajakan suatu pimpinan baik pimpinan keluarga, perusahaan, bahkan oleh suatu pemerintahan sekalipun dinegara mana saja. Namun dianya akan dapat segera diatasi oleh suatu reaksi atau tindakan tegas dari yang berwenang menjalankannya. Setidaknya demikianlah yang dapat dihasilkan dari suatu pemikirian sederhana atau renungan manis di balik bilik kecil rumah kita masing-masing.   

2.      Tidak memaksakan kehendak

Kadangkala pemikiran seseorang tidak akan selalu sejalan dengan pemahaman dan pemikiran orang lain. Oleh karena itu pemahaman atau pemikiran kita tidak selamanya akan dapat dipakai secara ideal di masyarakat umum. Ketika hal ini terjadi atau kita alami ada baiknya kita kermbali bertafakur dan beristikfar seraya membersihkan hati dan fikiran kita dari hal-hal yang negative. Serta tidak memaksakan kehendak kita kepada orang lain. 

3.      Selalu berfikiran positif (Positive Thinking)

Dari 2 (dua) hal di atas maka semua permasalahan yang ada pada kita, marilah kita instropeksi kembali dan semuanya kita serahkan kepada Yang kuasa. Karena bukankah semua yang telah, sedang dan akan terjadi sudah menjadi kehendak dan ketentuan Nya. Untuk itu marilah kita selalu berfikiran positif, baik kepada Allah, diri sendiri maupun kepada orang lain.

Dari uraian dan untaian serangkaian kata di atas dapatlah kita ambil suatu hikmah bahwasannya bagaimana agama kita (Islam) telah mengatur berbagai sisi kehidupan kita bahkan dari hal-hal yang terkecil sekalipun. Agar kita menjadi suci / bersih dan dapat menikmati Karunia Nya, sehingga kita mampu mensyukuri atas seluruh nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Namun pada kenyataannya sering sekali kita temui dimasyarakat kita orang-orang yang tidak mempu mensyukuri karunia yang begitu banyak yang telah Allah berikan kepada kita. Bahkan tidak banyak juga diantar kita malah cendrung selalu melakukan kerusakan di muka bumi ini, sehingga kelestarian dan keseimbangan alam mulai terganggu oleh tingkah laku dan perbuatan manusia tersebut.

Lalu bagaimana cara kita menyikapi semua ini? Apakah kita hanya mampu berdiam diri, membiarkannya, atau bahkan kita malah berperan serta dalam terjadinya kerusakan-kerusakan alam yang terjadi pada saat ini. Apakah kita harus menunggu Allah akan menegur kita dahulu? Sehingga alampun enggan bersahabat dengan kita lagi (lirik lagu Ebiet G Ade).

Semoga ini semua dapat kita jadikan suatu pembelajaran yang arif bagi diri kita masing-masing, sehingga misi kita di dunia ini yang diutus sebagai Kalifah di muka bumi dapat kita jalankan secara baik dan benar yang akan bernilai ibadah di sisi Allah SWT.

Akankan hasil renungan manis di bilik kecil ini berbuah manis pada akhirnya? Atau malah akan menjadi ejekan dan cemoohan orang-orang di sekitar saya?

Ya Allah kepadamu hamba memohon ampun dan berserah diri atas segalah khilaf dan salah yang ada pada saya.
Artikel Terkait

0 Komentar :


Tulis Komentar :
Nama
Email
Komentar
(Masukkan 6 kode diatas)