Banner_BKP2D_2017.jpg Selamat_Hari_Raya1440h.jpg




Sekilas Info

 
BADAN KEPEGAWAIAN, PENDIDIKAN DAN PELATIHAN DAERAH
KABUPATEN PELALAWAN MENGUCAPKAN SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1440 H / 2019 M
MINAL AIDIN WAL FAIDZIN,
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN 
 

Kalender

Etika dan Disiplin berpakaian
Selasa, 29 Maret 2016-16:24:03WIB
Kategori: Motivasi & Inspirasi - Dibaca: 924 kali

a.      Dasar dan Pengertian

Etika secara etimologi berasal dari Bahasa Yunani Kuno: "ethikos", berarti "timbul dari kebiasaan" adalah sebuah sesuatu di mana dan bagaimana cabang utama filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas yang menjadi studi mengenai standar dan penilaian moral. Etika mencakup analisis dan penerapan konsep seperti benar, salah, baik, buruk, dan tanggung jawab. St. John of Damascus (abad ke-7 Masehi) menempatkan etika di dalam kajian filsafat praktis (practical philosophy). (Sumber : Wikipedia)

Menurut beberapa ahli, oleh Ramali dan Pamuncak ; Etika adalah pengetahuan tentang perilaku yang benar dalam profesi. Sedangkan menurut Menurut K. Berten, Etika adalah nilai-nilai dan norma-norma moral, yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur perilaku. Jadi dapat disimpulkan bahwa merupakan suatu kebiasaan apakah itu baik atau pun buruk mengenai perilaku seseorang di dalam masyarakat.

Etika dapat dibagi kedalam dua kategori, yaitu etika deskriptif yang menelaah tentang sikap atau perilaku manusia perilaku manusia, serta apa yang dikejar oleh setiap orang dalam hidupnya sebagai sesuatu yang bernilai, dan yang kedua adalah etika normatif,  yang menetapkan berbagai sikap dan perilaku yang ideal dan seharusnya dimiliki oleh manusia atau apa yang seharusnya dijalankan oleh manusia dan tindakan apa yang bernilai dalam hidup ini. Jadi Etika Normatif merupakan norma-norma yang dapat menuntun agar manusia bertindak secara baik dan menghindarkan hal-hal yang buruk, sesuai dengan kaidah atau norma yang disepakati dan berlaku di masyarakat.

Sedangkan Disiplin merupakan perasaan taat dan patuh terhadap nilai-nilai yang dipercaya termasuk melakukan pekerjaan tertentu yang menjadi tanggung jawabnya. (Sumber : Wikipedia)

Etika dan  disiplin berpakaian penulis telaah melalui artikel ini, karena melihat kedisiplinan memiliki keterikatan dengan etika deskriptif dan etika normatif seperti yang penulis uraikan di atas..

Pada dasarnya pendisiplinan adalah usaha usaha untuk menanamkan nilai ataupun pemaksaan agar subjek memiliki kemampuan untuk menaati sebuah peraturan. karena seperti yang kita ketahui, Peraturan merupakan salah satu bentuk keputusan yang harus ditaati dan dilaksanakan. Jadi, kita harus menaati peraturan agar semua menjadi teratur dan orang akan merasa nyaman. Lebih sederhananya peraturan adalah tindakan yang harus dilakukan atau yang tidak boleh dilakukan.

b. Perspektif Etika dan Disiplin

Dimulai dari hal terkecil, pada diri kita sendiri saja telah menetapkan peraturan yang mengikat terkait pada diri sendiri atau pada lingkungannya. Contohnya, anda memiliki rumah sendiri, tentunya anda memiliki aturan, terhadap diri sendiri atau lingkungan anda dengan segala resiko yang akan ditanggung, apakah itu baik atau buruk. Apakah itu dimulai dari kegiatan sehari-hari di rumah, tatacara berpakaian, menjaga kebersihan di dalam maupun di luar rumah, bergaul dengan masyarakat, dan lain-lain. Jika anda menerapkan aturan dengan berlandaskan etika yang baik dan wajar, masyarakat sekitar pun akan menilai anda dengan baik, akan tetapi jika anda menjalankannya dengan sesuka hati saja / tidak teratur, tidak peduli lingkungan, anda akan dinilai tidak beretiket baik, dan tidak memiliki jiwa yang disiplin.

Di lingkungan masyarakat juga memiliki norma-norma yang menjadi pedoman yang mendasari perilaku untuk mengatur tingkah laku manusia dalam masyarakat. Ketentuan tersebut mengikat bagi setiap manusia yang hidup dalam lingkungan berlakunya norma tersebut, dalam arti setiap orang yang hidup dalam lingkungan berlakunya norma tersebut harus menaatinya. Di balik ketentuan tersebut ada nilai yang menjadi landasan bertingkah laku, jika kita berbuat tidak mengikuti norma  yang berlaku tersebut, masyarakat akan menilai kita tidak punya aturan atau tidak beretika baik.

Di jalanan umum, jika mengikuti ketentuan yang berlaku, anda akan berpakaian sopan, menutupi aurat, serta menyesuaikan lingkungan. Contoh kecil tidak mungkin anda menggunakan pakaian jas lengkap untuk berenang di area kolam renang? Demikian sebaliknya, di perkantoran tidak mungkin anda menggunakan pakaian renang? Bahkan berpakaian di lingkungan masyarakat, bukan hanya sekedar menutup aurat saja yang menjadi patokan, tapi masih banyak nilai-nilai etika yang mendasari tata cara berpakaian tersebut. Hal lain perlu dipertimbangkan dalam penggunaannya seperti, sesuai dengan tujuan, situasi dan kondisi lingkungan, kebersihan dan kerapihan tetap dijaga, tidak menggangu orang lain, serta tidak melanggar ketentuan hukum agama maupun negara. Jika hal seperti ini tidak dapat diterapkan, orang akan menilai kita tidak memiliki aturan dan tidak punya jiwa disiplin dalam berpakaian

c. Penerapan di Dunia Kerja

Lingkungan kerja resmi memiliki aturan baku yang telah ditetapkan oleh instansi tempat bekerja tersebut. Untuk lingkungan Pemerintah Daerah maupun pusat sudah ada aturan tertulis mengenai jenis pakaian, warna kainnya, atribut-atribut yang harus dilengkapi, dan lain-lain. Contohnya di saat penerapan aturan terbaru tentang Aturan Pakaian Dinas Pegawai Negeri Sipil, telah jelas menyatakan jika aturan tersebut tidak mau diikuti, PNS yang tidak mematuhi aturan tersebut maka akan dikenakan sanksi, dan sanksi tersebut dari mulai teguran hingga disekolahkan kembali.

Di pandangan masyarakat, seorang PNS yang berpakaian sesuai aturan, beratribut lengkap, rambut dipotong dan disisir rapi, bersepatu yang bersih lengkap dengan kaus kaki, pasti akan dinilai baik, dan disiplin karena selalu mengikuti aturan.

Masyarakat akan memberi penilaian buruk bagi PNS yang pakaiannya seenaknya saja, tidak lengkap, dan tidak sesuai dengan aturan yang ditetapkan. Orang akan dengan mudahnya berkata bahwa pegawai tersebut tidak mengikuti aturan dan tidak punya kedisiplinan.

Seperti yang telah penulis sampaikan di atas, banyak norma serta aturan yang terkait tentang berpakaian ini. bahkan tak jarang ada pernyataan bahwa “manusia dapat dinilai dari cara berpakaiannya”. Berpakaian yang  rapi, bersih, dan sesuai dengan aturan akan  memberi citra yang baik di mata siapapun. Bahkan seorang pelaku penipuan sekalipun akan berpakaian rapi dan bertutur kata yang baik untuk melakukan kejahatannya, agar dinilai baik di mata orang lain. 

Untuk itu di dunia kerja, harus tanamkan disiplin berpakaian dan sesuaikan dengan lingkungan tempat kita bekerja. Bukan  harga bahan  pakaian yang mahal menjadi patokan beretika pakaian yang baik, akan  tetapi pakaian yang pantas dipakai, sesuai dengan jadwal penggunaan, bahan  atau warna baju yang sesuai dengan  tingkatan jabatan, disetrika rapi, jahitan yang tepat (tidak kebesaran, atau pun sempit hingga membentuk tubuh berlebihan). Perlu ditanamkan dalam mindset kita, bahwa pakaian mahal tidak menjamin seseorang akan dinilai dengan baik.

Sebagai PNS, kelengkapan atribut pakaian merupakan suatu hal yang mutlak. Sebagai Aparatur Sipil Negara yang mengabdi kepada masyarakat harus selalu menjada etiket dan disiplin berpakaian. Sedangkan di luar ratusan ribu orang ingin menjadi PNS. Untuk itu hargai dan syukuri pekerjaan serta kepercayaan yang diemban di pundak anda dengan selalu taat terhadap aturan dan etika yang berlaku di lingkup pekerjaan anda. (Sup)


Artikel Terkait

0 Komentar :


Tulis Komentar :
Nama
Email
Komentar
(Masukkan 6 kode diatas)