Banner_BKP2D_2017.jpg Banner_Dirgahayu_RI_Ke-74.jpg




Sekilas Info

 
BADAN KEPEGAWAIAN, PENDIDIKAN DAN PELATIHAN DAERAH
KABUPATEN PELALAWAN MENGUCAPKAN SELAMAT HARI JADI KABUPATEN PELALAWAN KE - 20 PADA TANGGAL 12 OKTOBER 2019
  
 

Kalender


Selasa, 30 Desember 2014-13:52:04WIB
Kategori: Motivasi & Inspirasi - Dibaca: 1015 kali

Di dalam akidah Islam salah satu hal yang diatur / diajarkan adalah tentang kehidupan manusia, dimana  kehidupan manusia ini dimaknai menjadi beberapa aspek yakni :

1. Tujuan hidup;

Mencari ridha Allah / Mardathillah (al-An’am 163).

2. Tugas Hidup;

Mengabdikan diri kepada Allah dalam berbagai aspek kehidupan/ibadah (adz-Dzariat 56).

3. Peranan hidup;

Khalifah, wakil Allah untuk mewujudkan kehendak Illahi di bumi, memakmurkan alam dan lain-lain (al-An’am 165).

Pelanjut risalah / menyampaikan ajaran-ajaran Allah dan membelanya (Ali’Imran 110).

4. Pedoman hidup;

Al-Quran dan as-Sunnah (al-Isra’ 9, an-Nisa’ 59 dan 105).

5. Teladan hidup;

Muhammad Rasulullah SAW (al-Ahzab 40).

6. Kawan hidup;

Mu’minin, Mu’minat (al-Hujarat 10).

7.  Lawan hidup;

Syaithan dan sifat-sifat syaithan seperti : syirik, kufur dan lain-lain (al-Baqarah 168 dan al-An’am 142).

8.  Bekal hidup;

Seluruh alam raya dan isinya ( al-Jasiyah 13).

 

Beberapa aspek kehidupan manusia sebagaimana yang telah dipaparkan di atas merupakan tuntunan dan bekal kehidupan bagi manusia dalam menjalani kehidupannya di muka bumi ini, sebagaimana yang dijelaskan oleh surat-surat Al-Qur’an di bawah ini :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ   

51.56. Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

مَا أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ

51.57. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan.

إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ   

51.58. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.

Berpedoman dari Aspek kehidupan dan beberapa surat Al-Quran di atas, maka sudah selayaknyalah manusia dapat menata kehidupannya dengan sebaik mungkin, termasuk dalam urusan pekerjaannya, karena pekerjaan yang dijalankan secara tulus dan ikhlas akan bernilai ibadah di sisi Allah SWT dan memperoleh keridhoan darinya. Bekerja juga menunjukkan bukti eksistensi manusia sebagai Khalifah Allah di muka bumi ini, karena dengan bekerja manusia dapat berkreasi dan berinovasi dalam memanfaatkan kekayaan alam raya yang telah disediakan oleha Allah sebagai bekal bagi manusia untuk menjemput rezeki yang telah dijanjikan Allah kepada kita. 

Tujuan Bekerja Dalam Islam

Duniawi seringkali menjadi penyebab kelalaian umat manusia, sehingga kita menjadi budak dunia, bahkan lebih parah lagi, sejumlah besar Umat Islam memandang bahwa berpegang dengan ajaran Islam akan mengurangi peluang mereka dalam mengais rizki. Ada sejumlah orang yang masih mau menjaga sebagian kewajiban syariat Islam tetapi mereka mengira bahwa jika ingin mendapat kemudahan di bidang materi dan kemapanan ekonomi hendaknya menutup mata dari sebagian aturan islam terutama yang berkenaan dengan etika bisnis dan hukum halal haram. Untuk itu hendaknya didalam bekerja kita meneladani Nabi Muhammad SAW. Kesuksesan beliau berniaga karena sifat kegigihan dan kejujurannya. Tentunya yang tak kalah handalnya, sikap profesional serta kemampuan membaca peluang pasar. Sifat ini pula yang dibaca bangsa Cina dan diterapkan hingga sekarang, sehingga dengan demikian tujuan dalam sebuah pekerjaan dapat kita raih, yakni kesuksesan dan keridhoan dari Allah SWT.

Islam sangat menganjurkan amal dan kerja. Kerja untuk urusan Dunia dan Akhirat. “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri Akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari Dunia.”(Al-Qashash: 77). Dalam ayat lain disebutkan: “Apabila telah selesai shalat, maka hendaklah kalian bertebaran di muka bumi dan carilah karunia Allah, dan sebutlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kalian memperoleh keberuntungan.” (Al-Jumu’ah: 10). “Dan katakanlah: "bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu. (At Taubah:105). Dalam hadits shahih yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah Saw. bersabda: “Bekerjalah, karena setiap kalian dimudahkan untuk melakukan amal tertentu.”

Alangkah mulianya ajaran Islam yang mengajarkan tentang etos kerja. Dengan motivasi ibadah, bekerja semestinya selalu memberikan yang terbaik. Bekerja sebaik mungkin. Dengan ihsan dan itqan (cara yang paling baik). “maka berbuat baiklah sebagaimana Allah SWT. telah berbuat baik kepadamu” (Al Qashash: 77).

Adab Bekerja

Bekerja dengan motivasi di atas bisa melahirkan kerja keras, tegar, jujur dan profesional. Adapun kerja yang didasari hanya dengan motivasi jabatan dan kekayaan menjadikan seseorang bekerja ketika ada iming-iming atau konsekuensi jabatan dan kekayaan, jika tidak ada, ia akan enggan atau bermalas-malasan. Tetapi motivasi ibadah dalam bekerja bisa melahirkan karya dan produktivitas meski tidak dalam pengawasan manusia, meski jauh dari kontrol atasan.
Bekerja untuk pengabdian dan agar menggapai ridha Allah perlu memperharikan adab-adab sebaga
berikut:

a. Menghadirkan niat yang baik. Niat ibadah Karena Allah, niat mencari rezeki yang halal, niat memakmurkan bumi Allah dan niat baik lainnya. Dengan niat ini amal kebiasaan atau rutin seseorang akan bernialai ibadah di sisi Allah SWT. Sebagaimana yang dikisahkan pada kehidupan Rasulalah SAW, dan para sahabatnya dimana pada suatu pagi Rasulalah dan para sahabatnya sedang berkumpul kemudian mereka melihat seseorang yang kuat berjalan dengan cepat dan enerjik menuju kerja, para sahabat takjubterhadap orang tersebut maka merekapun bertanya : wahai Rasulallah SAW, bila saja ia berada dalam jalan Allah (Fisabilillah) pasti lebih baik baginya, maka Rasullah SAW berkata: “ Jika ia bekerja untuk anaknya yang masih kecil, maka berarti Fisabilillah. Jika ia bekerja untuk kedua orang tuanya yang renta maka berarti Fisabilillah. Dan jika ia bekerja karena riya dan kebanggaan maka itu di jalan setan”.(HR.Tabrani).

b.  Tidak menunda-nunda amal

c.   Bersungguh-sungguhd

e.  Tawadhu (Rendah hati) dan syukur.

f.  Tidak melupakan kewajiban ibadah kepada Allah SWT.                              

g.  Meninggalkan hal-hal yang dilarang agama.

Bekerja dengan motivasi, cara dan orientasi yang mulia menjadi perkara yang sangat mulia di sisi Allah SWT. Amal yang menjadikan manusia sebagai wakil Allah SWT. dalam memakmurkan bumiNya. Bekerja dengan  model seperti ini tidak menjadikan rentang waktu panjang yang habis, tenaga dan pikiran yang terkuras menjadi sia-sia. Sebaliknya, sangat disayangkan siapa yang waktu, tenaga dan pikirannya banyak tercurah dalam bekerja, namun tidak menjadi sesuatu yang mulia berupa ibadah dan manfaat kelak bagi kehidupan masa depannya, utamanya di Akhirat sana. Wallahu a’lam.

Semoga dengan memahami arti dan tujuan hidup kita ini, dapat melaksanakan dan menjalankan pekerjaan kita dengan sungguh dan moyivasi yang tinggi, sehingga bernilai ibadah di sisi Allah dan mendapat penilaian serta prestasi kerja yang terbaik dari pimpinan diperusahaan dimana tempat kita bekerja. Amin……….. Wassalam

 


Artikel Terkait

0 Komentar :


Tulis Komentar :
Nama
Email
Komentar
(Masukkan 6 kode diatas)