Banner_BKP2D_2017.jpg Banner_Dirgahayu_RI_Ke-74.jpg




Sekilas Info

 
BADAN KEPEGAWAIAN, PENDIDIKAN DAN PELATIHAN DAERAH
KABUPATEN PELALAWAN MENGUCAPKAN SELAMAT HARI JADI KABUPATEN PELALAWAN KE - 20 PADA TANGGAL 12 OKTOBER 2019
  
 

Kalender

Semangat dan Ikhlas Dalam Bekerja
Senin, 29 Desember 2014-14:10:59WIB
Kategori: Motivasi & Inspirasi - Dibaca: 1393 kali

Bismillahirrahmanirrahim....

Saudaraku, benarkah kita yakin bahwa Allah SWT yang menciptakan, menghidupkan dan memberikan rezeki pada kita? Benarkah kita yakin bahwa Allah yang menciptakan dan menguasai langit dan bumi? Kalau benar kita yakin, maka sebesar atau sedalam apakah keyakinan tersebut?

Sabda rasulullah saw :

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ رِزْقًا حَلَالًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَرِزْقًا وَاسِعًا وَرِزْقًا كَثِيْرًا وَرِزْقًا مُبَارَكًا

Artinya :

“Ya Allah saya mohon padamu rizqi yang halal, baik, luas, banyak serta yang barokah.

Dalam bekerja biasanya kita bergantung pada gaji. Kalau pendapatan yang diterima besar, maka gairah kita bisa menggebu-gebu. Sebaliknya jika gaji diterima kecil, semangat pun jadi lesu. Kecuali bagi yang saat itu memang sedang memerlukan uang, dan belum memperoleh pekerjaan lain yang berpenghasilan lebih besar. Padahal cara berpikir begitu sebetulnya keliru.

Pertama, karena gaji yang rendah yang membuat kita tidak bersemangat, akan memengaruhi kualitas hasil kerja. Hasil pekerjaan kurang berkualitas akan membuat atasan kecewa bahkan marah. Ekspresi kekecewaan atasan bisa membuat kita enggan berangkat bekerja dan membolos. Dan akhirnya, bukannya naik pangkat atau gaji dinaikkan, tapi kita malah bisa dipecat. Jadi, pangkalnya yang keliru. Bekerjalah tanpa bergantung pada gaji.

Kedua, karena rezeki dari Allah SWT amat luas dan tidak hanya melalui gaji. Instansi, perusahaan, lembaga dan sebagainya cuma sebagian perantara. Rezeki dari-Nya bisa di manapun, melalui perantara siapapun, dan dalam bentuk apapun.

Firman allah swt :

Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.” (QS. ath-Thalq [65]: 3).

Semangat dalam bekerja jangan bergantung pada gaji, karena rezeki dari Allah tidak hanya lewat gaji. Niatkan yang tulus kepada Allah dengan pekerjaan yang halal dan baik, syari’at yang selalu dipegang, serta terus bekerja secara jujur, disiplin, maksimal dan hasil pekerjaan yang berkualitas.

Hadits Rosullah saw :

اَللّٰهُمَّ اَكْفِنِيْ بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنِيْ بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ.

Artinya :

Ya Allah, berilah aku kecukupan dengan rezeki yang halal,  sehingga aku tidak memerlukan yang haram,  dan berilah aku kekayaan dengan karuniamu, sehingga aku tidak memerlukan bantuan orang lain, selain diri-Mu.” (HR. Ahmad)

Dan katakanlah:

“Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu’min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”. (HR.Muslim)

Biarkan saja jika atasan tidak mengetahui, karena Allah pasti memperhatikan. Abaikan juga atasan yang tidak menghargai, karena Allah pasti menghargai orang yang berbuat kebaikan dan kejujuran. Mungkin nanti Allah akan memberikan ganjaran lewat jalan yang lain. Allah Mahaperkasa lagi Mahamulia, dan kehendak-Nya pasti terjadi. Sekali pun hasil pekerjaan kita yang berkualitas diklaim oleh orang lain, jangan sakit hati. Tetapi tetaplah tersenyum, itu cuma ujian keihklasan. Hanya sebuah episode yang diatur oleh Allah SWT. Dia melihat dan mengetahui semuanya. Lanjutkan saja bekerja dengan baik dan bagus. Ada waktunya Allah membukakan fakta yang sebenarnya.

Ada istilah “lima as”, yakni :

a.       kerja keras,

b.      cerdas,

c.       berkualitas,

d.      tuntas, dan

e.       ikhlas.

Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda :

Artinya :

بُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْيُحِ إِنَّ اللهَ

“Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba yang apabila ia bekerja, ia menyempurnakan pekerjaannya. (HR. Tabrani)

Dalam bekerja kita harus bekersikap Jujur & Amanah الصدق والأمانة Karena pada hakekatnya pekerjaan yang dilakukannya tersebut merupakan amanah, baik secara duniawi dari atasannya atau pemilik perusahaan, maupun secara ukhrawi dari Allah SWT yang akan dimintai pertanggung jawaban atas pekerjaan yang dilakukannya. Implementasi jujur dan amanah dalam bekerja diantaranya adalah dengan tidak mengambil sesuatu yang bukan menjadi haknya, tidak curang, obyektif dalam menilai, dan sebagainya.

Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda:

“Seorang pebisnis yang jujur lagi dapat dipercaya, (kelak akan dikumpulkan) bersama para nabi, shiddiqin dan syuhada’. (HR. Turmudzi)

Menjaga Etika Sebagai Seorang Muslim Bekerja juga harus memperhatikan adab dan etika sebagai seroang muslim, seperti etika dalam berbicara, menegur, berpakaian, bergaul, makan, minum, berhadapan dengan customer, rapat, dan sebagainya. Bahkan akhlak atau etika ini merupakan ciri kesempurnaan iman seorang mu’min. Dengan keikhlasan, kita dapat terhindar dari iri dan dengki. Setelah menekuni pekerjaan secara tuntas dan berkualitas, kita sudah tidak perlu iri atau dengki terhadap kawan-kawan sekolah dulu yang hidupnya telah bermobil mewah. Karena jangankan dengan teman sekelas, antara diri kita dan saudara-saudara kita dalam satu keluarga pun garis hidupnya pasti berbeda.

Tak perlu dipersoalkan kalau misalnya adik kita lebih kaya. Dan jangan juga membanding-bandingkan harta dengan tetangga. Saat lebaran tiba, tak usah sibuk merental atau meminjam bermacam kendaraan, perhiasan dan barang-barang lainnya. Lebaran bukanlah musim kompetisi kepemilikan di kampung. Dan berlomba-lomba seperti itu memang tidak baik, malah kita sendiri yang akan sengsara.

Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning, kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat nanti ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu.” (QS. al-Hadd [57]: 20).

Dunia hanyalah kesenangan yang menipu. Namun, wajib diingat kalau hal itu tidak lantas membuat kita mengabaikan maupun mengutuknya. Teruslah berbuat amal pada jalur kebaikan dan bermanfaat. Tanpa membangga-banggakan rezeki yang diperoleh, apalagi merekayasa atau membuat pencitraan supaya dihormati.

Rosulullah saw bersabda :

اَللّٰهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَ لَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، لَا يَنْفَعُ ذَى الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ .

 Artinya :

   “Ya Allah, tidak ada yang bisa mencegah jika Engkau akan memberi dan tidak ada yang mampu memberi jika Engkau mencegahnya. Tidaklah bermanfaat nasib baik itu untuk menyelamatkan dari siksaMu.” (HR. Bukhari).

Dalam bekerja kita juga harus Menjaga Etika Sebagai Seorang Muslim. Bekerja juga harus memperhatikan adab dan etika sebagai seorang muslim, seperti etika dalam berbicara, menegur, berpakaian, bergaul, makan, minum, berhadapan dengan customer, rapat, dan sebagainya. Bahkan akhlak atau etika ini merupakan ciri kesempurnaan iman seorang mu’min.

Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda :

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

Artinya :

“Sesempurna-sempurnanya keimanan seorang mu’min adalah yang paling baik akhlaknya (HR. Turmudzi).

Tidak ada sesuatu pun kebaikan yang akan luput dari pengawasan dan pengetahuan Allah SWT. Tidak mungkin pahalanya tertukar. Dengan hasil pekerjaan yang tuntas dan berkualitas, kita tidak harus mendapat pujian, penghargaan, penghormatan maupun ucapan terima kasih dari orang lain. Lurus saja dalam berbuat, cukup berharap dan takut kepada-Nya. Allah yang akan mengangkat derajat kita.

“Semoga kita dapat menjalankannya”

                                             “amin ya Rabbal ‘aalamiin”
Artikel Terkait

3 Komentar :

 [10 Maret 2015 - 12:33:06 WIB]
"maka dari itu sesungguhnya makna bekerja adalah penghbaan kepada Allah SWT semata
"
 [14 April 2015 - 10:07:18 WIB]
"ihklas dalam bekerja adalah sumber untuk membuka jalannya rezki seseorang,terimkasih bagi penulis, artikel anda sangat bermanfaat bagi saya..insyaAllah, Allah yg akan membalasnya..amin
"
Supangat [25 Maret 2015 - 09:15:20 WIB]
"insyaallah apabila kita bekerja bersungguh-sungguh dan ikhlas, allah akan menambahkan rizkinya.amiin..
"

Tulis Komentar :
Nama
Email
Komentar
(Masukkan 6 kode diatas)