Banner_BKP2D_2017.jpg Selamat_Hari_Raya1440h.jpg




Sekilas Info

 
BADAN KEPEGAWAIAN, PENDIDIKAN DAN PELATIHAN DAERAH
KABUPATEN PELALAWAN MENGUCAPKAN SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1440 H / 2019 M
MINAL AIDIN WAL FAIDZIN,
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN 
 

Kalender

Belajar Prinsip Kerja serta Kepemimpinan Umar Bin Khattab dan Umar Bin Abdul Aziz
Sabtu, 29 Maret 2014-20:01:05WIB
Kategori: Motivasi & Inspirasi - Dibaca: 6056 kali

Umar bin Khattab bin Nafiel bin Abdul Uzza atau lebih dikenal dengan Umar bin Khattab (581 - November 644) adalah salah seorang sahabat Nabi Muhammad S.A.W. yang juga adalah khalifah kedua Islam (634-644). Umar juga merupakan satu di antara empat orang Khalifah yang digolongkan sebagai Khalifah yang diberi petunjuk atau yang sering disebut sebagai Khulafaur Rasyidin (sumber : Wikipedia)
 
Sebelum Umar masuk Islam, Rasulullah pernah berdoa,
“Ya Allah, muliakanlah Islam dengan salah seorang dari dua orang yang lebih Engkau cintai; Umar bin Khattab atau Abu Jahal bin Hisyam”.
 
Dan ternyata doa Rasulullah diijabah Allah, SWT dengan masuk Islamnya Umar bin Khattab.
 
Umar bin Khattab adalah seorang yang terkenal kuat, tegas dan berbadan tinggi besar. Hingga cukup ditakuti oleh kaumnya. Umar sempat bersikap kasar kepada kaum muslimin sebelum Umar masuk islam. Meski perangainya yang buruk ketika dalam kekafiran namun Allah berkehendak lain, ternyata Allah memilih Umar untuk membantu Rasulullah dalam perjuangan dakwah yang begitu sulit. Sehingga Umar masuk Islam dan berkorban jiwa dan harta untuk kemenangan dakwah.
 
Selain itu Umar juga adalah sosok yang jujur dan cerdas, hal ini terbukti ketika harus mendapatkan pelajaran atau pengajaran dari Rasulullah tentang Islam, beliau yang karena  kesibukannya, beliau menerapkan sistem bergiliran ke majelis Rasulullah Saw. Bagi yang datang ke majelis Rasulullah mengajarkan kepada yang tidak datang. Sehingga beliau tetap dapat mempelajari Islam meskipun tidak datang ke majelis Rasulullah.
 
Di masa kepemimpinan beliau banyak sekali hikmah yang dapat diambil serta dijadikan tolok ukur bagi kita yang ingin menjadi pemimpin yang ideal. Umar merupakan pribadi yang teguh pada prinsip terutama terhadap aturan-aturan Islam. Prinsip yang selalu dipegangnya yaitu :
  1. Bila engkau menemukan cela pada seseorang dan engkau hendak mencacinya, maka cacilah dirimu. Karena celamu lebih banyak darinya.
  2. Bila engkau hendak memusuhi seseorang, maka musuhilah perutmu dahulu. Karena tidak ada musuh yang lebih berbahaya terhadapmu selain perut.
  3. Bila engkau hendak memuji seseorang, pujilah Allah. Karena tiada seorang manusia pun lebih banyak dalam memberi kepadamu dan lebih santun lembut kepadamu selain Allah.
  4. Jika engkau ingin meninggalkan sesuatu, maka tinggalkanlah kesenangan dunia. Sebab apabila engkau meninggalkannya, berarti engkau terpuji.
  5. Bila engkau bersiap-siap untuk sesuatu, maka bersiaplah untuk mati. Karena jika engkau tidak bersiap untuk mati, engkau akan menderita, rugi ,dan penuh penyesalan.
  6. Bila engkau ingin menuntut sesuatu, maka tuntutlah akhirat. Karena engkau tidak akan memperolehnya kecuali dengan mencarinya.
Dengan prinsip-prinsip yang dipegan beliau tersebut selalu menjadi pedomannya di dalam menjalani berbagai aspek kehidupan, terutama di dalam menjalankan pemerintahannya selama menjadi khalifah. Seorang Umar yang pemberani dan keras, sehingga ditakuti dan disegani baik kawan maupun lawan, hanya takut pada satu hal yaitu melanggar aturan Islam. Oleh karena itu Umar selalu berhati-hati di dalam kepemimpinannya, jangan sampai ia berlaku tidak adil dan mendzalimi rakyatnya.
 
Disamping ia bekerja dari pagi hingga petang untuk urusan negeri, di malam hari setelah Shalat Isya beliau selalu berkeliling untuk melihat kondisi kota, jalan-jalan, serta lingkungan sekitarnya, apakah pembangunan maupun lingkungan yang berada di wilayah negerinya telah berjalan dengan baik atau tidak. Beliau seringkali berkeliling dalam keadaan menyamar, agar penduduk tidak dapat mengenalinya dan tidak memberikan perlakuan khusus terhadapnya. Selain untuk  bersilaturahmi, ia akan selalu bertanya kepada mereka, apakah selama pemerintahan Umar telah berlaku adil atau tidak. Apabila di dalam penyelidikannya menemukan ketimpangan atau ketidak adilan, maka keesokan harinya ia akan segera menanggapi hal tersebut.
 
Dengan melakukan peninjauan langsung tersebut, ia dapat melihat kinerjanya sebagai pemimpin, maupun kinerja pegawainya di dalam menyalurkan zakat maupun pelaksanaan pembangunan. Jika ia menemukan kesalahan pada peraturan yang ia buat, maka peraturan itu akan langsung diperbaiki dengan yang lebih baik, sedangkan jika kesalahan yang ditemukan merupakan kesalahan bawahannya, beliau akan langsung memberikan teguran, bila perlu ia akan menghukum bawahannya apabila kesalahan tersebut dianggap fatal bila terkait dengan kemaslahatan umat.
 
Pernah pada suatu ketika Umar bin Khatab bersama sahabat sekaligus ajudannya yang bernama Aslam, berjalan diwaktu mendekati tengah malam saat meninjau kotanya, Umar mendengar tangisan anak-anak. Ia pun mencari dan berhenti di rumah dimana ia mendengarkan tangisan anak-anak tersebut. Umar pun mengetuk pintu rumah itu, dan tak lama pemilik rumah yang ternyata seorang wanita membukakan pintu. Lalu Umar mengucapkan salam dan Tuan rumah menjawab salamnya.
 
Umar memperkenalkan dirinya sebagai seorang pengembara yang ingin bertamu untuk menumpang beristirahat sebentar dan akan melanjutkan perjalanannya kembali. Mendengar hal tersebut, sang pemilik rumah pun mempersilahkannya, ia lalu“Jika Tuan ingin bertamu, silahkan saja. Tetapi saya hanya dapat memberikan ada minuman saja, tetapi tidak ada makanan yang dapat saya berikan, karena kami sangat miskin”. Umar pun menjawab, “tidak apa-apa, saya hanya menumpang duduk sebentar saja untuk melepas penat”.
 
Tangis sang anak terus terdengar dan mengusik hatinya untuk bertanya. Umar pun berkata, “anak-anak itu menangis karena apa?”. Wanita itupun berkata, “Anak-anak itu lapar, sepanjang hari belum ada maka, mereka sedang menunggu saya yang sedang memasak”. Umar pun memperhatikan panci yang dipergunakan wanita itu, dan merasakan ada keanehan, dan ia pun bertanya “apa yang anda masak, sepertinya tak lazim untuk kulihat?”. “Saya sedang memasak batu”. Umar pun terkejut lalu bertanya”untuk apa anda memasak batu itu, bukankah itu tidak dapat dimakan?”. Wanita itu pun menjawab, kami ini sangat miskin dan saat ini tidak punya apa-apa. Gandum sudah habis, tidak ada lagi yang mau dimasak. Saya terpaksa memasak batu ini untuk menghibur anak-anak, sehingga anak itu tertidur. Selama ini, Umar sang Amirul Mukminin, hanya sibuk terhadap urusannya, ia tidak mau memperhatikan rakyatnya secara langsung”.
 
Mendengar ucapan wanita itu, Aslam ingin memberi tahukan bahwa yang datang adalah Amirul Mukminin, Umar bin Khattab. Akan tetapi Umar langsung menahan sebelum Aslam menjelaskan hal tersebut. Umar langsung minta diri kepada sang ibu untuk melanjutkan perjalanannya. Seketika Umar sambil menitikkan air mata langsung berjalan dengan sangat terburu-buru malam itu juga menuju gudang penyimpanan bahan makanan di baitul maal (rumah zakat). Dan langsung memikul karung besar berisikan gandum dan seember daging untuk dibawa menuju rumah tadi.
 
Aslam yang melihat Umar memikul karung yang cukup berat, ia meminta agar Umar menyerahkan kepadanya untuk dipikul. Mendengar hal itu Umar menolak, dan berkata dengan nada keras “Ini adalah tanggung jawab dan dosaku, sudah sepantasnya aku memikulnya dan membawanya sampai ke tujuan. , jangan kau jerumuskan aku ke dalam neraka. Mungkin saat ini engkaubisa menggantikanku mengangkat karung gandum ini, tetapi apakah kau mau memikul beban di pundakku ini kelak di Hari Pembalasan di muka Allah kelak? Padahal aku tidak akan sanggup memikul hukumanku pada saat itu” Aslam pun terdiam dan hanya bisa melihat Umar memikul karung dan memegang ember berisi daging tadi dengan nafas yang terengah-engah sampai ke rumah tadi hanya berjalan kaki.
 
Sesampainya Umar di depan rumah wanita itu, ia pun mengetuk pintu lalu menyampaikan bahwa ia membawakan gandum dan daging untuk diberikan padanya. Sang wanita pun menangis karena terharu dan berterima kasih, ia mempersilahkan Umar dan ajudannya untuk masuk dan ketika akan mengambil barang bawaan Umar, Umar pun berkata, “biarkan aku yang memasakkannya untuk kalian semua, karena sesungguhnya kamu telah kelelahan dari pagi hingga malam ini belum juga makan” lalu Umar pum memasak gandum dan daging tersebut untuk mereka. Setelah semuanya masak, sang ibu pun membangunkan anaknya untuk segera makan. Anak-anak itu langsung makan dengan lahapnya karena mereka benar-benar lapar. Tak lama setelah selesai makan, anak itu kembali tertidur dalam keadaan perut sudah kenyang.
 
Dengan penuh suka cita sang wanita kembali mengucapkan terima kasihnya kepada Umar, dan berkata “sungguh mulianya hati tuan, telah membawakan gandum kepada kami. Dan bolehkah saya bertanya, siapakah nama tuan”, Umar pun menjawab, “Namaku Umar Bin Khatab dan ini sahabatku Aslam”. Serta merta wanita itu terkejut dan meminta maaf “Maafkan saya wahai Amirul Muknimin karena telah lancang kepada anda”. “Anda tidak perlu meminta maaf, karena kesalahan pada saya dan seharusnya saya yang meminta maaf kepada anda” ujar Umar.
 
Tak lama Umar pun permisi untuk pulang. Dan keesokan harinya ia memanggil bawahannya yang mengurus wilayah tempat tinggal wanita tadi, lalu memberikan teguran kepada mereka agar lebih teliti dalam mendata masyarakat, jangan sampai ada yang terlewatkan. Sehingga zakat yang telah terkumpul dapat tersalurkan dengan baik.
 
Melihat kisah Umar bin Khattab di atas dapat kita renungkaan, bahwa Umar sebagai pemimpin mendedikasikan sebagian besar waktunya untuk kemaslahatan umat. Ia bukan hanya menjalin silaturahmi kepada lingkungannya saja, akan tetapi seluruh lapisan masyarakat. Ia berkeliling meninjau wilayahnya bukan hanya sesekali, justru sangat sering melakukannya.
 
Karena kebiasaannya meninjau langsung akhirnya mempertemukan Umar dengan calon menantunya yang merupakan pertalian kepada keturunannya Umar Bin Abdul Aziz. Dikisahkan pada suatu malam Umar bin Khattab berkeliling memantau keadaan rakyatnya. Di masa itu, Umar bin Khattab telah memberlakukan aturan yang melarang rakyat untuk mencampur susu dengan air. Karena hal itu sangat merugikan produsen yang berlaku jujur. Dan ketika ia berkeliling, tibalah ia pada suatu rumah yang ternya milik penjual susu. Terdengar olehnya pembicaraan Ibu dan anak yang bersiap-siap untuk mengemas susu untuk dijual keesokan hari.
 
Si ibu berkata"Anakku, campurkan air ke dalam susu itu agar jumlah takarannya banyak,". Anaknya menjawab “Ibu, bukankah Khalifah Umar telah mengeluarkan larangan untuk mencampur susu dengan air ?". Sang ibu pun berujar "Biarkan saja, amirul mu'minin tidak akan tahu, di sini kan hanya ada kita berdua, dia tidak melihat maupun mendengar kita melakukan hal ini". "Wahai ibu, bukankah Allah SWT Maha Melihat dan Maha Mendengar? Meski Khalifah tidak tahu, bukankah Allah Maha Mengetahui atas segala sesuatu?” sahut anaknya. “Maafkan ibu anak,sesungguhnya ibu telah khilaf. Ibu bersyukur memiliki anak yang shalehah seperti dirimu” ujar si ibu.
 
Mendengar hal tersebut Amirul Mukminin pun tertegun, ia bergumam di dalam hati “Sungguh terpuji hati anak itu, siapakah dia? Dan di manakah ia berjualan?”. Umar pun dalam beberapa hari terus memantau keluarga tersebut. Menurut riwayat Umar pun pernah membelinya dan menguji kemurnian susu yang dijual oleh keluarga itu. Setelah mempertimbangkan dengan masak-masak, Umar memanggil putranya, Ashim Bin Umar. Umar lalu berkata, “Anakku, ketika aku ke suatu tempat, dan di sana aku menemukan sebuah keluarga. Di keluarga itu ada seorang anak gadis yang sangat jujur. Maka ayah berharap agar kamu untuk menikahinya, Insya Allahkamu bersamanya dapatmelahirkan keturunan yang jujur dan adil”.
 
Singkat cerita, Ashim bin Umar pun menyutujui menikahi wanita jujur tersebut. Dari pernikahan tersebut, lahirlah anak perempun yang diberi nama Ummu Ashim. Ketika dewasa Ummu Ashim dinikahi seseorang yang bernama Abdul Aziz bin Marwan, yang kemudian dari pernikahan mereka lahirlah Umar bin Abdul Aziz.
 
Umar bin Abdul Aziz dilantik menjadi khalifah dari tahun 99 H hingga 101 H. Ketika beliau diberi amanah menjadi Khalifah ia menangis dan tak lama kemudian pingsan. Ketika siuman sahabat dan masyakat bertanya mengapa hal itu terjadi, ia pun menyatakan, bahwa beban kewajiban bagaikan ribuan gunung yang diletakan kepundaknya, padahal untuk mengurus diri sendiri pun ia merasa belum mampu. Begitu takutnya beliau jika tidak dapat menjalankan amanah dengan baik, karena seluruh amanah yang diemban akan dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT di hari pembalasan.
 
Begitu hati-hatinya Umar Bin Abdul Aziz di dalam menjalankan pemerintahan. Ia menerapkan prinsip kejujuran serta selalu bertanggung jawab.Rasa takutnya kepada Allah demikian besarnya, sama halnya Umar bin Khattab leluhurnya. Rasa takut tersebut memotivasinya untuk selalu jujur dan bekerja dengan jauh lebih baik.
 
Pada suatu ketika, pintu ruang kerja Umar Bin Abdul Aziz diketuk di waktu malam yang cukup larut. Setelah tamu itu ,mengucapkan salam, dan dijawab olehnya, Umar pun bertanya “Siapa di luar?”. Dan langsung mendapat jawaban “ ini aku anakmu Ayah”.Umar pun bertanya kembali “Ada apa anakku”?, “Ada sesuatu hal yang ingin kubicarakan padamu ayah” sahut anaknya. Kembali Umar bertanya “Engkau ingin membicarakan urusan apa? Urusan negara atau urusan keluarga?”. “Tentu saja aku ingin membicarakan urusan keluarga” jawab anaknya lagi dengan nada sedikit jengkel karena sang ayah tak kunjung membukakan pintu”. Sang Khalifah pun berkata “Baiklah, tunggu sebentar”, lalu ia pun segera mematikan pelita yang menyala sehingga ruangan pun menjadi gelap gulita.
 
Ketika pintu dibuka dan anaknya dipersilahkan masuk, anaknya terheran-heran dan bertanya kepadanya “Wahai ayah, pelita di ruangan ini ayah padamkan, sehingga kita harus berbicara di dalam keadaan gelap seperti ini?. Khalifah pun menjawab “Anakku, itu lah kenapa aku bertanya kepadamu sebelum mengizinkanmu masuk, apakah urusan negara atau urusan negara? Dan engkau menjawabnya urusan keluarga, maka kumatikan saja pelita ini”. “Mengapa pula seperti itu Ayah?” tanya anaknya lagi. Umar pun menjawab “anakku, sesungguhnya pelita yang menerangi ruangan kerjaku ini merupakan pelita milik negara. Sedangkan minyaknya dibiayai dari pajak negara. Tentunya ayah harus mempergunakannya untuk keperluan negara saja, jika di ruangan ini ada pelita milikku, tentu aku akan lebih memilih mempergunakan pelita milikku sendiri”
 
Dari kisah Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz di atas dapat dipetik banyak hikmah yang patut jadi renungan kita semua. Seorang Umar Bin Khattab tegas dan keras menegakkan aturan Islam, tapi berjiwa lembut, dan takut terhadap murka Allah SWT. Umar Bin Abdul Aziz merupakan pribadi yang lembut, tapi penuh kehati-hatian dan menjaga kejujuran kerja. Kedua Umar di atas adalah sosok yang selalu menyalahi aturan-aturan Islam. Mereka berdua telah menjadi Khalifah yang dapat menerapkan bahwa segala tindak tanduk yang dilakukan di muka bumi ini selalu dilihat oleh Allah SWT.
 
Jika seseorang dapat menerapkan prinsip yang takut melakukan ketidakjujuran, takut tidak adil, dan terutama takut melanggar aturan Islam, Insya Allah seseorang itu ada pribadi yang teguh dan dapat dipercaya, baik sebagai pekerja (karyawan) biasa, maupun sebagai seorang pemimpin. Apakah anda dapat menjadi seperti mereka? (Adr)



Artikel Terkait

1 Komentar :

Muhammad Taupik [04 April 2017 - 14:26:55 WIB]
"bagus
"

Tulis Komentar :
Nama
Email
Komentar
(Masukkan 6 kode diatas)