Banner_BKP2D_2017.jpg Selamat_Hari_Raya1440h.jpg




Sekilas Info

 
BADAN KEPEGAWAIAN, PENDIDIKAN DAN PELATIHAN DAERAH
KABUPATEN PELALAWAN MENGUCAPKAN SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1440 H / 2019 M
MINAL AIDIN WAL FAIDZIN,
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN 
 

Kalender

Nutrisi Sehat Wanita Bekerja
Rabu, 18 Desember 2013-16:25:25WIB
Kategori: Pengetahuan - Dibaca: 961 kali

Foto Artikel

Wanita adalah makluk yang Iemah yang diciptakan dari tulang rusuk laki- laki. Oleh karena itu wanita mempunyai kekurangan dan kelebihan dari segala sesuatunya. Disamping mempunyai kelebihan dan kekurangan nya wanita merupakan tulang punggung dari suatu keluarganya. Karena wanita juga merupakan tulang punggung keluarga, wanita juga di tuntut untuk bekerja.

Bekerja untuk membantu perekonomian keluarga juga merupakan isteri dan ibu bagi anak- anaknya. Disamping itu wanita yang bekerja juga dapat dan bisa membantu ekonomi keluarganya. Wanita yang bekerja bukanlah hal yang tabu pada zaman sekarang ini. Banyak wanita yang bekerja di tengah - tengah masyarakat. Peran serta wanita / perempuan dalam menjalankan tugasnya mempunyai peran ganda sebagai ibu rumah tangga sekaligus pekerja. Agar kondisi tubuh tetap terjaga dan fit, wanita karir perlu memperhatikan asupan nutrisi dari makanan dan minuman yang d konsumsinya.

Haruskah seorang wanita bekerja? Bagaimana jika wanita tersebut telah menikah, bukankah suami yang seharusnya mencukupi kebutuhannya? Lalu bagaimana bila suami belum dapat memenuhi semua kebutuhan keluarga? Dan jika tidak bekerja, lalu buat apa wanita diperbolehkan sekolah hingga ke perguruan tinggi dan bahkan terkadang prestasinya lebih baik dari laki-laki?!

Adakah pertanyaan tersebut pernah terbesit dalam benak kita, wahai saudariku? Dilema yang dihadapi kaum muslimah terutama setelah menikah dan mempunyai keturunan. Pilihan yang dirasa berat saat harus memilih antara pekerjaan dan keluarga. Karenanya banyak yang memilih untuk menjalankan keduanya.

Jika dilakukan survei apakah alasan wanita memilih tetap bekerja setelah menikah dan memiliki anak, beragam alasan yang muncul. Mungkin alasan yang terbanyak adalah karena faktor ekonomi. Tingginya kebutuhan keluarga dan harga yang terus meningkat tidak selalu berjalan searah dengan peningkatan penghasilan menyebabkan istri dituntut pula untuk membantu suami dalam mencari nafkah keluarga.

Selain masalah ekonomi, ada juga muslimah yang bekerja karena ingin mengabdikan ilmu yang telah didapatnya seperti dokter, guru dan Iainnya. Dan mungkin ada juga muslimah yang bekerja untuk dapat meniti karirnya dibidang tertentu. Namun, selain alasan-alasan diatas, ada pula muslimah yang memilih tetap bekerja karena merasa bosan dengan pekerjaan rutinitas mengurus rumah tangga atau karena anggapan bahwa dengan bekerja pergauuan dan statusnya lebih balk dibanding hanya menjadi ibu rumah tangga. Islam tidak melarang seorang muslimah untuk bekerja, bukankah putri Rasulullah Fatimah mendapatkan upah dari hasil menumbuk gandum. Kisah istri Nabi Ayub yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga ketika Nabi Ayub tengah sakit, juga adalah contoh bagaimana muslimah mengambil peran dalam turut memenuhi kebutuhan keluarga.

Namun tentunya Islam sebagai agama yang sempurna dan komplit memberikan petunjuk dan arahan apa dan bagaimana sebaiknya muslimah bekerja. Dan tidak hanya batasan mengenai pekerjaan apa yang baik, apa yang harus dihindari, tetapi Islam pun memberikan panduan tentang penghasilan serta harta seorang muslimah yang bekerja.

Tugas atau peran utama yang harus dijalankan oleh seorang muslimah yang telah menjadi istri dan ibu adalah mengurus rumah tangga, mendidik anak, menjaga harta suami, menyelesaikan pekerjaan pekerjaan rumah yang tak kalah beratnya dari pekerjaan suami untuk memenuhi nafkah. Seorang istri tidak memiliki kewajiban untuk turut mencari nafkah, karena kewajiban ini telah dibebankan kepada suami.

"Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang makruf." (Al Baqarah: 233)

"Tempatkanlah mereka (para istri) dimana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. Dan jika mereka (istri-istri yang telah ditalak) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka melahirkan." (Ath¬Thalaq: 6)

Suami berkewajiban untuk memberikan nafkah kepada istri dan anak-anak seperti yang diperintahkan dalam ayat diatas. Dan kewajiban untuk memberikan nafkah kepada istri dan anak-anak berlaku meski suami miskin atau istri dalam keadaan kaya/berkecukupan. "Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rizkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya.Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan." (Ath¬Thalaq:7)

Nafkah yang harus dipenuhi suami kepada istri, antara lain tempat tinggal, makan dan minum, pakaian, dan biaya kesehatan ketika sakit. Hal tersebut adalah nafkah yang utama disamping nafkah lainnya yang mengikuti sesuai dengan kebutuhan. Suami berkewajiban memberikan tempat tinggal untuk ditempati bersama demi mewujudkan ketenangan dan cinta kasih diantara keduanya. Tempat tinggal tidak disyaratkan harus hak milik suami, karena dapat juga sewa atau berupa pinjaman. Mengenai makanan dan minuman suami memberikan nafkah sesuai dengan kebiasaan yang berlaku, seperti misalnya suami menyediakan berbagai peralatan dapur serta memberikan uang belanja agar istri dapat memasak. Suami pun wajib memberikan pakaian kepada istri dengan yang baik. Dan mengenai pakaian bagi istri, Islam telah mengatur bagaimana pakaian yang sesuai syariat.

Jika istri terbiasa dengan adanya khadimah, maka suamipun dianjurkan untuk dapat memenuhinya. Namun hal ini tentu kembali kepada kemampuan dari suami. "Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya." (Ath-Thalaq:7) "Orang yang mampu menurut kemampuannya dan orang miskin menurut kemampuannya (pula)." (AI-Bagarah: 236)

Biaya hidup untuk memenuhi beragam kebutuhan tersebut kian tahun selalu meningkat. Dan alasan inilah yang menyebabkan banyak muslimah yang turut membantu suami dalam mencari nafkah.

Di tengah arus informasi yang deras, tidak semua berita dan informasi benar dan bermanfaat. Ada beberapa pihak yang sengaja memanfaatkan wanita sebagai objek komersial, seperti propaganda kecantikan dengan berbagai produk perawatan hingga fashion. Image sebagai wanita modern yang memiliki karir dan keluarga harmonis menjadi topik di media-media, bahkan media yang khusus wanita tumbuh pesat. Wanita-wanita sukses menurut versi media kebanyakan adalah yang memiliki karir di posisi tinggi pada perusahaan dan memiliki keluarga yang harmonis dimana anak-anaknya memiliki prestasi akademis atau seni yang balk.

Islam tidak melarang seorang wanita untuk bekerja, namun ada beberapa kekhawatiran seiring dengan semakin banyaknya wanita yang memutuskan untuk tetap bekerja dan mengejar karir di luar rumah. Beberapa dampak negatif yang timbul diantaranya keluarga terpecah karena suami istri sibuk bekerja dan anak-anak menjadi terlantar, istri menjadi terlalu lelah karena konsentrasi yang terbagi antara beban pekerjaan di luar rumah dan juga dirumah, banyak penelitian mengungkap salah satu pemicu angka perceraian meningkat adalah kerena wanita terlalu sibuk di luar rumah sehingga mengabaikan urusan rumah tangga dan memicu pertikaian, angka pengangguran lelaki yang meningkat, dan tersebarnya fenomena kerusakan sosial di masyarakat.

Sebelum memutuskan untuk bekerja di luar rumah, ada baiknya melihat pada beberapa faktor syar'i yang mendorong seorang muslimah untuk Suami kesulitan memberi nafkah istri bekerja di luar rumah antara lain: dan keluarga. Syariat memberi pilihan bagi istri yang suaminya tidak mampu member! nafkah antara mengajukan fasakh atau tetap bertahan sebagai istri, seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Istri yang memilih mempertahankan kehidupan suami istri terpaksa harus bekerja untuk mendapatkan materi sebagai penopang kehidupannya dan juga keluarga. Suami dengan pendapatan terbatas sementara istri tidak bisa bekerja karena sibuk membangun kehidupan mulia bersama anak-anak. Akhirnya kondisi ini mendorong istri bekerja untuk mendapatkan materi yang bisa meningkatkan taraf hidup pribadi dan keluarga atas kerelaan hatinya. Istri memiliki utang yang harus dilunasi sehingga istri terdorong bekerja demi mendapatkan uang untuk menutup utang tersebut.

Tips atau saran nutrisi asupan bagi wanita bekerja, agar kesehatan tetap terjaga adalah

  • Mulai hari dengan segelas air hangat segelas yang diberi perasan lemon. Air lemon hangat ini dapat membantu proses detoksifikasi atau pengeluaran racun dari dalam tubuh. Bisa juga ditambahkan dengan madu sebagai pemanis sekaligus memberikan khasiat tambahan bagi tubuh.
  • Sarapan merupakan hal yang penting sebelum memulai hari. Untuk wanita bekerja, jangan sampai tidak sarapan sebelum beraktivitas. Karena dari sarapan anda jadi bertenaga untuk melaksanakan tugas hari itu. Bisa dengan mengonsumsi roti gandum atau oatmeal.
  • Jika anda hobi minum teh sambil bekerja, maka jangan lupa meminumnya sambil ditemani biskuit. Minum teh saja bisa tingkatkan produksi asam lambung, yang tidak balk untuk kesehatan. Dengan tambahan biskuit, perut jadi tidak kosong dan hal tadi bisa diminimalisir.
  • Jangan lupa minum air putih atau jus di sela pekerjaan. Karena minum yang cukup dapat mencegah infeksi kencing atau infeksi jamur.
  • Hindari makanan cepat saji untuk makan slang karena mengandung banyak kalori dan lemak. Pilih menu dengan serat yang cukup seperti salad, nasi merah, dan roti gandum.
  • Bagi wanita pekerja yang suka makan cemilan, ada baiknya menghindari makan goreng-gorengan sebagai snack. Saat ini banyak pilihan snack sehat dari bahan kacang-kacangan seperti almond. Snack yang sehat bisa menyeimbangkan kadar glukosa.

Semoga bermanfaat bagi yang membutuhkannya


Artikel Terkait

0 Komentar :


Tulis Komentar :
Nama
Email
Komentar
(Masukkan 6 kode diatas)