Banner_BKP2D_2017.jpg Banner_Dirgahayu_RI_Ke-74.jpg




Sekilas Info

 
BADAN KEPEGAWAIAN, PENDIDIKAN DAN PELATIHAN DAERAH
KABUPATEN PELALAWAN MENGUCAPKAN SELAMAT HARI JADI KABUPATEN PELALAWAN KE - 20 PADA TANGGAL 12 OKTOBER 2019
  
 

Kalender

Pegawai Negeri Sipil Dalam Konsep Islam
Senin, 07 Oktober 2013-15:10:38WIB
Kategori: Motivasi & Inspirasi - Dibaca: 1060 kali

 

 

 

Jika tiba pada waktunya rekrutmen CPNS dibuka, hampir seluruh instansi pemerintah disibukkan dengan kegiatan seleksi penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil, Ratusan bahkan ribuan pelamar rela ber-"susah payah" berharap bisa terpilih menjadi “abdi masyarakat”. Kegiatan ini, sebagai salah satu upaya untuk mewujudkan tuntutan profesionalitas PNS di masa depan. Syari’at Islam menganjurkan kepada kita untuk bekerja dan memberikan kebebasan kepada kita dalam memilih pekerjaan apa saja selagi pekerjaan tersebut halal”. Setiap pemerintah  baik pusat maupun daerah berkonsukuensi untuk memilih Sumber Daya Manusia PNS yang memenuhi persyaratan baik secara kuantitas maupun kualitas, sehingga dapat melaksanakan tugas dan fungsinya secara profesional. “Pepatah Mengatakan Jadilah orang yang layak dalam kinerjamu niscaya kau akan mencapai kelayakan serta kesuksesan juga dalam pekerjaaanmu.

Konsep Dasar Rekrutmen Pegawai dalam Islam

Syari’at Islam sebagai sistem hidup bagi manusia yang sempurna (syumuliyatul Islam) mengatur berbagai aspek kehidupan, termasuk menyangkut sumber daya manusianya. Profesionalisme dalam konsep Islam tentunya menyangkut kualitas akal (al-fikr), kualitas hati nurani (ruhiyah) dan komitmen melaksanakan tugas (amaliyah). Ketiga unsur pokok tersebut sangat menentukan keberhasilan seseorang dalam mengelola kehidupannya. Karena Alloh swt telah memberikan modal yang sama kepada hambanya tidak dibedakan satu dengan lainnya, sebagaimana firman-Nya:

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam Keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur” (Q.S. 16:78).

Kenikmatan modal dasar yang diberikan Allah swt selanjutnya tergantung bagaimana setiap manusia memanfaatkannya, jika ada kesungguhnya sudah dapat dipastikan akan berhasil dan memilih santai (ghoflah) hasilnyapun tidak memuaskan. Untuk menyiapkan kader-kader yang mampu menjalankan tugas secara berdaya guna dan hasil guna dalam menjalankan fungsi sebagai abdi masyarakat (pelayanan publik) diawali pola rekrukmen pegawainya. Agama Islam memberikan rambu-rambu dalam rekrutmen pegawai yang dapat dijadikan kebijakan oleh para pengelola kepegawaian sebagaimana diabadikan Al-Qur’an:

 “Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: "Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya" (Q.S. 28:26).

Apabila dicermati dari ayat tersebut dalam rekrutmen pegawai dibutuhkan setidak-tidaknya dua syarat yaitu: “ kuat dan amanah”.

Pertama: memiliki kekuatan meliputi kuat aqidah (quatul aqidah), cerdas (quatul fikr), wawasan jauh kedepan (tsaqofah), cerdas hatinuraninya (quatul ruhiyah) dan bekerja professional (itqon). Seorang pegawai yang memiliki kekuatan aqidah sudah dapat dipastikan akan tertanam dalam dirinya merasa dipantau  (muroqobah) oleh Sang Pencipta. Dengan tertanamnya rasa dipantau dalam bekerja, maka akan melahirkan pribadi rajin dan ulet bekerja baik ada atasanya maupun dalam kesendirian, karena menjalankan tugas sebagai kewajib pribadi. Kekuatan aqidah juga perlu diimbangi kecerdasan berfikir sehingga bekerja akan berdasarkan nalar yang hidup. Apakah pekerjaan membawa manfaat atau mudarat untuk kepentingan publik, maka cara berfikir yang cerdas akan memberikan pertimbangan matang. Oleh karenanya, seorang yang professional akan menggabungkan secara seimbang aqidah, cara berfikir, wawasan, kecerdasan spiritualnya sehingga melahirkan amal secara berdaya guna dan hasil guna untuk kepentingan orang banyak. Dalam konsep Islam disebut rahmatan lil ‘alamin sebagaimana dipraktekan Rasululloh SAW ketika menata masyarakat madaninya dan diabadikan al-Qur’an sebagai berikut:

Dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (Q.S. 21:107).

 Kedua: seorang pegawai memiliki amanahnya dalam melaksanakan tugas dan fungsi yang diberikan kepadanya. Karena, faktor amanah sangat dibutuhkan sebagai kontribusi nyata mewujudkan pemerintahan yang bersih (good governance). Kepercayaan masyarakat tidak terlepas sejauhmana para abdi Negara mampu menjalankan tugas yang diembankannya melalui kerja jujur, disiplin dan bertanggung jawab. Mengingkari amanah yang diberikan kepada pegawai sesungguhnya telah melecehkan atauh menghianati Alloh swt dan Rasulnya. Untuk itulah, pegawai yang professional atas bingkai iman perlu merenungkan penegasan Allah swt dalam firman-Nya:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui” (Q.S. 8:27).

Berbicara tentang amanah, sesungguhnya setiap Pegawai Negeri Sipil dipastikan mengucapkan sumpah berdasarkan agama yang dianutnya. Yang menjadi masalah, bagaimana seseorang komitmen terhadap ucapannya ketika diangkat/disumpah menduduki jabatannya. Padahal, sumpah yang diucapkannya bukan bertanggung jawab kepada unit organisasi semata, melainkan pasti diakhirat harus menghadap Mahkamah Agung, yaitu Alloh swt.  Diharapkan melalui rekrutmen sumber daya aparatur Negara yang memiliki dua kekuatan tersebut mampu mewujudkan masyarakat adil makmur dibawah lindungan-Nya (baldhatun thoyyibatun wa robbun ghofur), amin. (Sup)
Artikel Terkait

0 Komentar :


Tulis Komentar :
Nama
Email
Komentar
(Masukkan 6 kode diatas)