Banner_BKP2D_2017.jpg Selamat_Hari_Raya1440h.jpg




Sekilas Info

 
BADAN KEPEGAWAIAN, PENDIDIKAN DAN PELATIHAN DAERAH
KABUPATEN PELALAWAN MENGUCAPKAN SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1440 H / 2019 M
MINAL AIDIN WAL FAIDZIN,
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN 
 

Kalender

Keseimbangan Dunia dan Akhirat
Senin, 07 Oktober 2013-14:54:45WIB
Kategori: Motivasi & Inspirasi - Dibaca: 2680 kali

Segala kejadian di penjuru langit dan di muka bumi memiliki dasar-dasar keseimbangan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Dimulai dari makhluk ciptaan-Nya dan termasuk juga seluruh kejadian-kejadian alam di sekeliling kita. Wujud keseimbangan terlihat pada setiap yang ada pasti memiliki pasangannya. Sebagai contoh, ada siang yang berpasangan dengan malam, ada matahari yang berpasangan dengan bulan, ada laki-laki dan ada perempuan, ada hidup dan ada mati, ada dunia juga ada akhirat, serta banyak aspek yang telah memiliki pasangan yang telah sepenuhnya digariskan dan diatur oleh Allah SWT.

 

Demikian pula di dalam menjalani kehidupan ini, kita telah diperintahkan oleh Allah sebagai khalifah di muka bumi ini memiliki dua kewajiban, pertama menjalankan tugas sebagai manusia kepada sesama manusia, dan yang kedua tugas sebagai manusia kepada Penciptanya. Contoh menjalankan tugas sebagai manusia kepada manusia termasuk di dalamnya belajar, bekerja, bersosialisasi, dan lain-lain. Sedangkan tugas manusia kepada Penciptanya sudah tentu dengan jalan beribadah kepada-Nya sesuai yang telah disampaikan melalui Al-Quran dan melalui Hadish Rasulullah.

 

Segala aspek duniawi merupakan bagian dari kewajiban kepada Sang Pencipta. Karena sesungguhnya belajar, bekerja, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara merupakan bagian dari ibadah, sepanjang sepenuhnya dijalankan dengan kejujuran dan ketulusan hati. Jadi, apabila kita bekerja apakah sebagai wirausaha atau sebagai pegawai/karyawan dengan baik, jujur, dan semangat juang yang tinggi selain sebagai wujud memenuhi kebutuhan juga sebagai wujud ibadah kepada Allah SWT.

 

Berikut ayat dari Al-Quran, Surat Al-Qashas ayat 77 yang menjelaskan tugas kita sebagai manusia yang harus menjalankan kewajiban dunia dan akhirat:

 

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

 

Setelah melihat ayat di atas, maka jelaslah bahwa Allah SWT memerintahkan kepada kita untuk dapat menjaga keseimbangan dunia  untuk memenuhi dan menjalani kehidupan hingga ajal menjemput, dan juga beribadah dengan sebaik-baiknya sebagai bekal untuk kehidupan di akhirat kelak. Maka jelaslah melalui ayat di atas, kita tidak boleh hanya mengejar kebutuhan duniawi sedangkan ibadah ditinggalkan, demikian pula sebaliknya kita juga tidak boleh melupakan kebutuhan dan kewajiban duniawi dikarenakan hanya mengejar kewajiban  akhirat.

 

Pada intinya di dalam ajaran Agama Islam tidak hanya mengajarkan kepada pemeluknya untuk beribadah, tapi juga sangat mendorong umatnya untuk berusaha dan bekerja yang tekun. Dalam berusaha tersebut, antara iman dan amal harus ada interaksi. Artinya, betapapun keras nya usaha yang dilakukan, harus selalu menjaga kaidah hukum Islam. Jangan sampai demi kebutuhan dunia, segala jenis pekerjaan dan sistem kerja berada di luar kaidah ajaran islam tersebut.

 

Dalam Islam selalu memberikan kita peluang untuk berusaha dalam hidup ini, apapun pekerjaan yang kita lakukan boleh-boleh saja asalkan halal dan di ridhai oleh Allah SWT. Untuk menyeimbangkan pekerjaan tersebut adalah dengan menjaga kejujuran, disiplin, niat dalam bekerja,  dan tak lupa juga, apabila mendapat rezeki untuk tidak melupakan bersedekah. Karena di dalam harta atau penghasilan yang kita raih, juga terdapat hak orang lain di dalamnya.

 

Nabi Muhammad SAW sebagai pemimpin umat Islam, di dalam kehidupannya tidak menghabiskan seluruh hidupnya untuk beribadah. Allah SWT telah menjadikan Rasulullah sebagai sosok yang dapat menjadi contoh di dalam kehidupan sehari-hari. Atas segala kehendak dan izin Allah SWT, Rasulullah telah dipelihara sifat dan sikapnya sejak ia masih kecil hingga dewasa. Sebelum Beliau diangkat sebagai Rasulullah di usia 9 tahun telah mulai bekerja dengan menggembalakan kambing milik orang lain. Beliau menjaga seluruh kambing gembalaannya dengan penuh kasih sayang layaknya milik sendiri. Pada zaman sekarang, ketika seseorang dipercaya untuk menjaga dan merawat barang dagangan atau hewan gembalaan, ataupun  peralatan yang digunakannya tidak memiliki sifat sepeti ini. Seringkali acuh tak acuh kepada barang dagangan yang dipercayakan kepadanya.

 

Bahkan ketika Beliau beranjak dewasa dan mulai berdagang, Rasulullah selalu menegakkan kejujuran di dalam berdagang. Tidak mau semata ingin meraih keuntungan secepat kilat, harga dinaikkan begitu saja, bahkan mengklaim suatu barang yang sebenarnya kualitasnya kurang baik menjadi barang yang sangat bagus. Sesungguhnya Rasulullah melakukan hal yang sangat berbeda dibandingkan pedagang pada zaman itu. Beliau selalu menegakkan kejujuran dan kearifan di dalam berdagang dan menjaga hubungan baik dengan pembeli dan sesama pedagang. Bahkan karena kejujurannya di dalam berdagang dan bergaul, Beliau Dijuluki al-Amin (yang dipercaya). Dan dengan kejujurannya itu pula membuat seluruh dagangannya lebih laku terjual dibandingkan pedagang yang lain.

 

Sifat jujur Rasulullah selaku pengusaha menjadi modal besar dalam dakwah awal di Mekah. Wawasannya yang luas karena pengalaman bisnisnya pun memudahkannya dalam berinteraksi dengan objek dakwah dari negeri lain. Saat mengelola bisnis Khadijah, beliau mendapatkan keuntungan sampai dua kali lipat dari pedagang lainnya, sampai diberikan bonus dan mendapatkan perhatian khusus. Khadijah mengutus orang lain untuk mengamati Muhammad, kenapa ia bisa untung besar dibanding pedagang lainnya. Muhammad adalah pedagang yang jujur dan amanah. Ia memeegang erat janjinya. Tak ikut-ikutan dan terpengaruh dengan pegadang lain yang berpesta untuk merayakan kesuksesan mereka. Hal itu menguatkan Khadijah untuk “bersinergi” secara bisnis maupun pribadi. Maka disampaikan maksudnya dan berjodohlah mereka. Bisnisnya, menguatkan perjodohannya, bukan sebaliknya, menikahi orang kaya buat melancarkan bisnis.

 

Rasulullah di Madinah selain menjalankan perintah Allah untuk berdakwah, juga  melakukan sejumlah kebijakan perekonomian untuk menata perdagangan masyarakat pada masa itu. Cukup bayak aturan muamalat yang turun, seperti larangan riba dan pola bisnis yang haram. Bahkan Rasulullah mengecek langsung di pasar. Beliau menerapkan sistem perdagangan yang jujur layaknya ketika beliau berdagang dulu. Beliau mengarahkan kepada seluruh pedagang untuk berdagang dengan jalan yang baik. Beliau pun memerintahkan kepada pedagang agar jangan mencampur barang kualitas baik dengan yang buruk. Lalu memberi harga yang baik sesuai dengan kualitas yang terkandung pada barang dagangan tersebut. Rasulullah pun mengingatkan untuk bersedekah apabila memiliki rezeki lebih di dalam berniaga tersebut, seperti yang telah disampaikan sebelumnya, bahwa di dalam harta yang dimiliki oleh seseorang, terdapat hak orang lain yang membutuhkan.

 

Dari sistem perdagangan yang diterapkan tersebut menunjukkan bahwa di dalam Islam, segala kegiatan bukan hanya untuk meraih dunia, tetapi juga untuk mendapat Ridha Allah SWT. Dalam Islam selalu memberikan kita peluang untuk berusaha dalam hidup ini, apapun pekerjaan yang kita lakukan boleh-boleh saja asalkan halal dan di ridhai oleh Allah SWT. Makanya dalam wirausaha ataupun bekerja dengan orang lain kita dituntut untuk menjaga kejujuran, disiplin untuk memberikan pelayanan yang baik kepada sesama. Untuk itu kita harus menjaga keseimbangan pekerjaan dunia maupun ibadah akhirat seperti hadish berikut :

“ Dari Anas ra , berkata , bahwa Rasululloh SAW bersabda : “ Sebaik-baik orang diantara kalian adalah orang yang tidak meninggalkan urusan akhiratnya demi urusan duniawinya, dan pula tidak meninggalkan urusan duniawinya demi perkara akhiratnya dan tidak mau menjadi beban orang lain .”

[ HR.Al Khatib dari Anas ra. ].

 

Hadist tersebut di atas menjelaskan tentang kehidupan manusia yang seharusnya, yaitu kehidupan yang berimbang, kehidupan dunia harus diperhatikan disamping kehidupan di akhirat. Islam tidak memandang baik terhadap orang yang hanya mengutamakan urusan dunia saja, tapi urusan akhirat dilupakan. Sebaliknya Islam juga tidak mengajarkan umat manusia untuk konsentrasi hanya pada urusan akhirat saja sehingga melupakan kehidupan dunia.

Bekerja bukan hanya dianjurkan untuk memberi manfaat kepada manusia, tetapi juga sangat baik lagi apabila bermanfaat bagi makhluk yang lain. Untuk hal ini pun Rasulullah SAW bersabda, w

“Seorang muslim yang menanam atau menabur benih, lalu ada sebahagian yang dimakan oleh burung atau manusia, atau pun oleh binatang,

niscaya semua itu akan menjadi sedekah baginya”

(HR. Bukhari, Muslim dan Ahmad).

Kehadiran kita di dunia ini jangan sampai menjadi beban orang lain. Maksudnya janganlah memberatkan dan menyulitkan orang lain. Dalam hubungan ini, umat Islam tidak boleh bermalas-malasan, apalagi malas bekerja untuk mencari nafkah , sehingga mengharapkan belas kasihan orang lain untuk menutupi keperluan hidup sehari-hari.

 

“ Sebaik-baik mata pencaharian adalah usaha seseorang dengan tangannya sendiri, apabila ia ikhlas “

( HR. Abu Hurairah ra).

 

Dari pembahasan di atas, dapatlah disimpulkan kehidupan di dunia harus diseimbangkan dengan ibadah akhirat, sehingga dapat bermanfaat bagi diri sendiri, dan juga kemaslahatan umat. (Adr)
Artikel Terkait

0 Komentar :


Tulis Komentar :
Nama
Email
Komentar
(Masukkan 6 kode diatas)